narcistbandit

I'm from no generation, I'm part of no group, I'm totally floating and this is the whole story, and why I can survive

Perjalanan itu: Day 2 (Malaysia – Vietnam)

September7

Setelah tidur di pelataran bandara yang diguyur hujan semalaman, akhirnya sekitar jam 4 pagi saya bisa masuk kedalam terminal. Setelah check-in selesai, waktu menunggu boarding saya manfaatkan untuk melihat-lihat toko bebas bea di LCCT KL itu. Tapi tenang, saya tidak beli apa-apa selain koran berbahasa Inggris yang harganya kalau dirupiahkan cuma Rp. 3000 saja.  Saya harus tulis bahwa saya tidak beli apa-apa karena memang saya tidak sudi mengeluarkan banyak uang di negara tukang ngaku-ngaku ini.

Pesawat berangkat pukul 06.40. Sepanjang perjalanan Kuala Lumpur – Ho Chi Minh saya tidur nyenyak. Maklum tidur di pelataran bandara tentu tidak terlalu enak dan badan saya menagih untuk diistirahatkan sejenak sebelum nanti berpetualang di Ho Chi Minh.

Pukul 08.40 saya sampai di bandara internasional Tan Son Nhat di Ho Chi Minh City (HCMC), Vietnam. Diluar dugaan, bandara ini terlihat sangat modern, bersih, dan rapi. Bandara ini juga memiliki penerangan alami karena terbuat dari kaca-kaca besar yang membiarkan sinar matahari masuk tanpa membawa efek panasnya. Yang agak membuat bergidik adalah petugas-petugas bandaranya yang berpakaian warna hijau muda dan tua khas pakaian tentara. Tapi ini hanya kesan yang ada di kepala saya. Mungkin karena terlalu banyak menonton film perang dan terintimidasi oleh kartu imigrasinya yang bertuliskan: “THE SOCIALIST REPUBLIC OF VIET NAM”. Kenyataannya, petugas bandara dan imigrasinya, lumayan ramah, walaupun berwajah tegang.

Keluar dari bandara, cuaca mendung menyambut. Beruntung penginapan yang sudah di-booking sejak dari Jakarta menyediakan jasa penjemputan dengan biaya USD 3 saja. Dan rupanya itu sangat sangat membantu karena jarak dari bandara ke pusat kota lumayan jauh dengan jalanan yang lumayan semrawut karena tidak adanya pembatas jalan. Cukup mengerikan melihat mobil dan motor membelok dan memotong jalur dengan bebas karena memang tidak ada pembatas jalan.

Sesampai di tempat penginapan berbiaya USD 5 per malam, kamar belum siap. Jadi saya harus menitipkan tas ke resepsionis karena badan dan kaki saya sudah tidak sabar untuk menjelajahi kuliner di kota ini. Sepanjang jalan dari bandara ke penginapan tadi, makanan jalanan begitu banyak dan beragam, dan saya nglier melihatnya. Harus segera berlari dan mencoba!

Atas rekomendasi pemilik penginapan, saya berjalan satu blok untuk menemukan sebuah warung Pho yang katanya terenak di daerah itu. Letaknya persis ditikungan pertigaan antara jalan Pham Ngu Lao dan jalan Do Quang Dau di distrik 1 kota Ho Chi Minh. Sesampainya di warung pelayan langsung mendekati saya membawa menu yang isinya Pho semua. Hanya kombinasinya saja yang berbeda. Ayam, daging sapi, atau daging lain. Saya memilih Pho Bo, pho dengan daging sapi,itu yang khas di Vietnam.

Pho
Pho adalah sebutan untuk mie rebus khas Vietnam. Yang berbeda dengan mie rebus kebanyakan di Indonesia adalah bahwa Pho menggunakan mie yang terbuat dari beras. Di Vietnam, Pho selalu disajikan dengan bahan-bahan pelengkap seperti daun basil, jeruk nipis, tauge, serta irisan cabe yang besar-besar dan pedas setengah mati. Tapi tenang, bahan pelengkap ini diletakkan di piring berbeda. Jadi boleh ditambahkan sesuka hati atau kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Yang juga istimewa dari pho adalah bahwa kuahnya begitu banyak. Jadi jangan kaget dengan mangkuknya yang sangat besar. Kuah yang merupakan kaldu sapi atau ayam inilah yang menentukan pho itu disebut enak atau tidak. Karena memang kuahlah yang mendominasi makanan ini.
Pho benar-benar merupakan makanan nasional Vietnam. Menurut informasi dari orang Vietnam sendiri, mereka selalu makan pho untuk sarapan dan makan siang. Sedangkan nasi dan makanan lain mereka makan dimalam hari.


Pho Bo (Pho dengan daging sapi) lengkap dengan sayuran pelengkapnya.

Usai makan dengan lahap karena pho-nya memang sangat enak, saya memutuskan untuk berjalan kaki ke Ben Thanh Market alias pasar Ben Thanh yang bila ditempuh dengan berjalan kaki akan memakan waktu sekitar 15 menit saja. Saya tertarik dengan pasar ini karena pernah di-feature dalam acara The Amazing Race Asia (TARA) entah season berapa. Dan memang pencarian informasi lebih lanjut tentang pasar ini membuat saya rela melangkahkan kaki kesana.

Ben Thanh Market
Dalam bahasa Vietnam, Ben berarti dermaga sedangkan Thanh (Quy Thanh) berarti Benteng Kura-Kura. Pasar ini adalah pasar terbesar di kota Ho Chi Minh. Bangunannya termasuk bangunan bersejarah karena merupakan salah satu bangunan tertua dikota itu. Terbentuk sejak awal abad ke-17 sebagai pasar tidak resmi tempat bertemunya para pedagang disekitar sungai Saigon, pasar ini kemudian dibangun oleh pemerintah Perancis (setelah berhasil merebut benteng Gia Dinh) pada tahun 1859. Kebakaran sempat menghancurkan pasar ini ditahun 1870, namun kemudian pasar ini berdiri kembali dan justru menjadi pusat perdagangan terbesar di Saigon.
Pasar Ben Thanh terdiri dari dua bagian. Bagian pertama atau bagian depan yang menjual berbagai macam souvenir atau oleh-oleh khas Vietnam. Mulai dari kaos, sandal, tas, hingga pernak-pernik kecil ada disini. Dan bagian kedua atau bagian belakang adalah tempat para penjual makanan berkumpul. Layaknya food court, segala macam makanan khas Vietnam ada dibagian belakang pasar ini.
Ada tips tersendiri untuk berbelanja di pasar Ben Thanh ini yaitu jangan takut menawar barang hingga 50%-75% dari harga yang ditawarkan.
Satu hal yang katanya lebih seru adalah mendatangi pasar Ben Thanh dimalam hari ketika para pedagang makanan tumpah ruah dijalanan. Saya tentu tidak akan melewatkan ini. Pasti akan saya lakukan dihari ke-3 nanti.


Sebuah gedung tua disebelah Ben Thanh Market bertuliskan: Viet Nam – Ho Chi Minh Forever


Tampak luar Ben Thanh Market


Bagian depan Ben Thanh Market, berisi penjual berbagai cenderamata.


Bagian favorit saya tempat para penjual makanan berkumpul.


Udang yang besar-besar dan Vietnamese Spring Roll yang sesungguhnya.

Pulang dari pasar Ben Thanh, saya ngaso sebentar di kamar penginapan yang cukup bersih walaupun butuh tenaga ekstra untuk mencapainya. (Penginapan murah di Ho Chi Minh sangat khas. Mereka adalah bangunan tinggi dengan hanya 2-3 kamar per lantai. Jangan berharap ada lift di penginapan bertarif USD 3-5 ini. Jadi, siapkan tenaga untuk mendaki anak-anak tangga curam menuju kamar masing-masing).

Makan malam seru di Ho Chi Minh
Ini sungguh makan malam paling seru sepanjang perjalanan saya! Dijemput oleh dua orang bule anggota couchsurfing: Steve asal Kanada dan Carlie asal Amerika Serikat, kami makan di sebuah tempat makan yang kata mereka sangat lokal di jalan De Tham. Disana kami bertemu dengan teman-teman anggota Couch Surfing lainnya dan membuat makan malam jadi sangat ramai dan istimewa.
Rumah makan yang kami datangi ini sebenarnya sebuah rumah makan sederhana saja. Mereka menyediakan beraneka makanan khas Vietnam yang rasanya tidak terlalu jauh dari masakan China. Yang istimewa disini adalah cah kangkungnya. Sangat enak dengan rasa bawang putih yang kental.
Tidak ketinggalan SAIGON BEER! Yang satu ini sungguh sungguh harus dicoba! Rasanya istimewa dengan penyajian khas Vietnam yaitu dengan menggunakan es batu.
Catatan istimewa tentang makan di Vietnam:
- Jangan kaget kalau tiba-tiba pelayan datang menghampiri gelas bir dan mengkobok gelas itu dengan jepitan es untuk mengganti es yang sudah larut dengan es yang baru dan lebih besar.
- Adalah hal yang wajar untuk membuang sisa makanan seperti tulang-tulang atau sampah seperti tissue ke bawah meja. Pertama kali mempraktekkan ini, rasanya agak kikuk, tapi lama kelamaan justru menyenangkan.


Dijemput naik motor dan melintasi jalanan Ho Chi Minh yang penuh kekacauan.


Makan malam seru bersama teman-teman Couchsurfing di Vietnam.

Jangan Hina Indonesia

December11

Hari Jumat (7/12) kemarin, Yahoo messenger saya benar-benar sibuk karena begitu banyak orang yang mengirimi pesan berantai untuk mem-flag sebuah alamat blog yang katanya dibuat oleh orang (atau yang dianggap orang) Malaysia untuk menghina-hina Indonesia.

Dan memang benar, ketika saya meng-klik link yang diberikan, yang saya lihat adalah sebuah blog full hinaan untuk Indon (entah apakah benar ini diartikan sebagai Indonesia oleh si penulis). Dan ketika saya klik link ‘comment’, begitu banyak comment yang disampaikan oleh orang (atau yang saya anggap sebagai orang) Indonesia yang mengkritik dan mengata-ngatai si penulis. Kata-katanya tidak lebih hina daripada kata-kata penulis yang dihinanya.

Terserah apakah saya mau dianggap tidak nasionalis, tidak berjiwa patriotis, atau tidak lulus penataran P4, tapi yang jelas saya beranggapan bahwa blogging adalah hak setiap orang. Karena itu, apa yang hendak ditulis didalam sebuah blog juga adalah kebebasan si empunya blog. Bila ada orang yang tidak setuju atau sangat setuju dengan apa yang ditulis, silakan menyampaikannya melalui kolom ‘comment’ yang selalu ada di setiap blog. Atau kalau kurang puas, silakan buat blog sendiri dan tuliskan ketidaksetujuan atau kesangat setujuan atas blog ini dan itu.

Blogging memang memerlukan keterampilan tersendiri. Karena blogging bukan hanya membiasakan menyampaikan ide, perasaan, atau apapun dalam bentuk tulisan, tapi juga bagaimana tulisan itu kemudian enak dibaca atau malah mengaduk-aduk emosi orang lain. Bukankah ada yang berpendapat bahwa mereka yang memiliki blog adalah orang-orang yang narsis dan bahwa narsisme itu indah.

So, jangan kalah sama orang yang menyampaikan perasaannya dengan menghina-hina orang lain. Sampaikan apa yang kita rasa, dengan bahasa yang lebih bermartabat. Udah nggak jaman kayaknya membuat diri kita terlihat baik dengan cara menjelek-jelekkan orang lain. Selain itu, kalau memang kita ini dihina, mbok ya jangan langsung emosi. Bercermin dulu deh, hinaan itu benar atau nggak. Kalau emang benar, ya anggap saja orang yang menghina itu tidak tau cara mengkritik dengan baik. Kalau tidak benar, ya coba jelaskan.