March9
Ini hari yang istimewa karena hari inilah rombongan teman-teman pacar saya berada dalam formasi lengkap. Semua tiba di Bali kemarin dan siap untuk berworkshop bersama.
Mulanya hari ini sama seperti hari yang sudah-sudah. Hanya bedanya saya tidak lagi menunggu sendirian. Teman pacar saya yang kebetulan jadwal workshopnya tidak bersamaan menemani saya (atau saya temani?) jalan-jalan mencari oleh-oleh. Seru juga dengan peluh bercucuran berburu buah tangan.
Kejadian lebih seru berlangsung pada malam harinya ketika kami beramai-ramai (9 orang) makan malam di sebuah restoran Maroko di bilangan Oberoi. Restoran ini dipilih karena menyajikan tarian perut setiap hari Jumat dan Sabtu malam.
Awalnya semua tampak biasa, makan, ngobrol, serta haha hihi. Tapi semua berubah ketika lagu dan penari perut mulai muncul. Kontan seluruh rombongan (kecuali saya tentunya) ikut bertepuk dan bergoyang ikut irama. Tidak hanya itu, penarinya, yang rupanya juga ikut workshop, tidak tanggung-tanggung mengajak satu per satu anggota rombongan teman pacar saya ini untuk ikut menari. Dan tentu saja…kesempatan unjuk kebolehan ini tidak mereka sia-siakan.
Rupanya kehebohan malam ini tidak sia-sia. Dari dapur muncul dua piring besar berisi aneka makanan penutup yang dipersembahkan oleh pemilik restoran secara gratis sebagai apreasiasi atas kehebohan yang tidak lazim ini.
Senangnya semua orang pulang dengan memori yang indah…
March6
Hari ini kami mulai dengan kegiatan yang agak unik! Berburu kain di Jl. Sulawesi. Ini adalah sebuah jalan yang menjadi pusat perdagangan kain di Denpasar. Kali ini saya dan pacar tidak sendirian. Dua orang teman yang juga peserta workshop ikut berburu kain di sini. Target waktu satu jam terlewatkan begitu saja dan molor menjadi dua jam. Tapi sayang, tidak selembar kainpun yang mereka dapatkan.
Puas berburu, kami segera berangkat ke Nusadua. Perut yang menagih untuk diisi membuat kami terpaksa makan siang di sebuah restoran (yang tidak saya sukai karena harganya yang mahal) di Bali Collection. Setelah itu, seperti biasa, saya menunggu workshop selesai di kedai kopi favorit.
Malamnya, setelah mengantar dua teman ke hotel, saya dan pacar janjian makan malam dengan seorang teman lagi dari Jakarta. Sebenarnya dia adalah teman satu jurusan (kuliah) pacar saya, tapi saya justru mengenalnya dari Plurk. Jadilah kami makan malam di Warung Italia yang terletak di Jl. Kunti.
Warung Italia dengan makanan yang enak dan harga yang murah membuat kami betah. Obrolanpun mengalir lancar hingga saatnya kami harus pulang.
March6
Hari ke-3 pacar saya di Bali adalah hari pertama ia akan sibuk dengan workshop bellydance-nya. Jadi kami tidak banyak melakukan aktivitas yang melelahkan dan lebih berkonsentrasi untuk menjaga agar dia tidak terlambat sampai di tempat workshopnya.
Nonton Avatar adalah kegiatan yang kami pilih. Film yang sudah ditontonnya lima kali ini ingin ia digenapi di Bali. Jadilah kami pergi ke satu-satunya bioskop yang agak representatif di sini, Galeria 21 namanya.
Setelah takjub dengan gedungnya, ukurannya, waktu penjualan tiketnya, banyaknya poster larangan membawa makanan dari luar, dan aroma dalam gedung teaternya, kamipun akhirnya menyaksikan film bagus arahan James Cameron itu.
Dari Galeria kami langsung lanjut ke Ayodya, Nusadua. Di sana setelah menurunkan pacar, saya menunggu di sebuah kedai kopi mahal. Untungnya mereka punya internet berkecepatan tinggi. Menunggu tidak terasa lagi.
Malam, karena lelah, kami makan di sebuah restoran murah meriah a la mahasiswa. Cak Asmo namanya. Letaknya yang di dekat rumah, harganya yang miring, dan rasa makanannya yang enak menjadi alasan kenapa kami ke sana.
March2
Tanggal 24 adalah hari jadian kami. 10 bulan sudah kami berpacaran dan hari ini kami memutuskan untuk menjelajah Ubud serta sebuah pantai nan indah, Echo Beach.
Perjalanan ke Ubud kami mulai sekitar pukul 11. Perjalanan yang panjang namun lumayan adem karena langit gelap membayangi. Begitu sampai kami langsung berjalan cepat menuju Casa Luna. Sebuah restoran unik yang pernah saya bahas di mendapat ulasan bagus di Kulineran. Saya dan pacar masing-masing memesan nasi campur khas Bali. Saya pakai ayam sementara pacar saya yang vegetarian tentu memilih sayur-sayuran saja. Tidak lupa kami memesan minuman khas Casa Luna yang terdiri dari rempah-rempah dan sayur segar. Semua lengkap dengan manfaatnya bagi tubuh. Dan tentunya sebagai penutup, kopi dan cinnamon roll menjadi pilihan yang tak pernah salah!
Dari Casa Luna, saya mengajak pacar ke Tegallalang. Di sana, selain melihat-lihat kerajinan kayu, kami juga memandangi terassering dari balik jendela mobil karena memang hujan sedang mengguyur. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan ke Denpasar.
Hari yang indah ini kami tutup dengan ber-sun set di Echo Beach. Mencelupkan kaki ke bibir pantai sambil menunggu makanan matang. Sayang sempat terjadi insiden karena salah bicara. Tapi semua teratasi dengan baik.