narcistbandit

I'm from no generation, I'm part of no group, I'm totally floating and this is the whole story, and why I can survive

Pacar ke Bali (Day 1)

February27

Selasa, 23 Februari 2010, jam 22.31 WITA pesawat yang membawa pacar saya mendarat di bandara Ngurah Rai, Bali. Namun demikian, jam 23an kami baru bisa bertemu karena lamanya proses pengambilan bagasi. Setelah berkangen sebentar, kami langsung menuju Laota. Sebuah restoran 24 jam yang terkenal dengan masakan buburnya yang super enak!

Setelah kekenyangan makan bubur, kamipun langsung ngebut ke rumah. Ngobrol sebentar lalu menonton DVD, kamipun tertidur dengan pulasnya.

Mencoba mengerti

February18

Tahukah Anda bahwa mencoba mengerti adalah sebuah kegiatan yang tidak mudah? Bagi saya, mencoba mengerti adalah sebuah kegiatan yang mengesampingkan (untuk sementara atau permanen) perspektif pribadi atas suatu hal untuk kemudian memakai perspektif orang lain (yang coba untuk dimengerti) dalam melihat hal tersebut. Dalam hal ini, tentu saja perspektif orang yang coba dimengerti itu berbeda sedikit atau banyak dengan perspektif orang yang mencoba mengerti.

Dalam perjalanannya, ada orang-orang yang demikian pandai mengesampingkan perspektif pribadinya dan hampir selalu berhasil memahami perspektif orang lain. Orang inilah yang kemudian dalam percakapan sehari-hari sering dipuji dengan kata-kata: “Ah, dia orangnya memang sangat pengertian.”

Sebenarnya, seperti halnya semua hal di dunia ini, mencoba mengerti juga mempunyai dua sisi. Sisi pertama adalah bahwa orang yang selalu mencoba mengerti akan terlihat seperti orang yang bijaksana. Orang ini selalu bisa memposisikan dirinya dalam diri orang yang sedang minta dimengerti. Tapi di sisi lain, dalam kasus-kasus tertentu, orang yang selalu mencoba mengerti bisa juga dinilai sebagai orang yang lemah. Orang yang tidak mampu mempertahankan pandangan pribadinya. Orang yang terkalahkan oleh kepentingan orang lain.

Lalu salahkah orang yang selalu mencoba mengerti dan mengorbankan dirinya bagi orang yang selalu minta dimengerti? Lagi-lagi bagi saya, ada satu alat ukur yang membedakan orang lemah dengan orang bijak dalam kaitannya dengan sifat pengertian ini. Orang kalah menjadi pengertian karena terpaksa. Sedangkan orang bijak menjadi pengertian karena memang ia memilih untuk itu.

Anak Anda hilang?? Salahkan Fesbuk!

February16

Pagi ini seperti biasa saya terbangun dengan pesawat televisi menyala dan menyiarkan aneka berita. Namun, berbeda dengan hari-hari sebelumnya, pagi ini saya tertawa terbahak-bahak menonton rangkaian berita, lima berita berturut-turut, tentang anak hilang di berbagai daerah (bahkan nama daerahnyapun saya baru pertama kali mendengar) yang dikaitkan dengan sebuah situs yang disebut-sebut bernama fesbuk.

Perlu saya luruskan di sini bahwa saya bukan tertawa karena ada anak-anak hilang. Tapi saya tertawa karena begitu mudahnya orang menunjuk fesbuk sebagai penyebab hilangnya anak mereka. Dalam sebuah wawancara dengan ayah korban, reporter bertanya:
“Kenal dari mana pak anak bapak sama penculiknya?”
Sang ayah dengan tergopoh-gopoh menjawab: “Dari internet.” (dengan logat daerah yang kaku hingga terdengar seperti menyebut ‘engternet’)
“Dari fesbuk ya, pak?” Reporter mengarahkan.
“Iya.” Sang ayah tampak bingung dan asal menjawab.

Pertanyaan yang mengambang di benak saya adalah: benarkah mereka semua tahu tentang apa itu fesbuk? Ataukah semua jejaring sosial di internet mereka anggap sebagai fesbuk? Atau bahkan mungkin, semua perkenalan lewat warnet mereka sebut sebagai berkenalan lewat fesbuk?

Mungkin nanti sore saya perlu bertanya pada rumput yang bergoyang (di depan Double Six, biar goyangannya lebih mantap).

Surut

February15

Beberapa bulan belakangan produktifitas saya menulis di blog ini surut. Padahal dulu, sempat setiap hari saya menumpahkan cerita di sini. Mulai dari hal-hal nggak penting, sampai ke hal-hal yang sangat nggak penting. Dan surutnya produktifitas ini saya tumpahkan kesalahannya pada mikro blog yang menjadi tren akhir-akhir ini.

Mikro blog seperti twitter dan plurk sangat menyedot perhatian. Betapa tidak, hanya dengan tulisan singkat (kurang hari 140 karakter) saya sudah bisa mendapatkan tanggapan lebih dari 90 kali. Ditambah lagi, tanggapan itu interaktif sifatnya. Bisa langsung dijawab, dibantah, atau bahkan dibelokkan menjadi sesuatu yang sangat tidak berhubungan dengan tema awalnya.

Apapun itu, yang jelas saya harus mulai rajin menulis lagi. Kalau tidak, saya yang tidak punya bakat menulis ini bisa-bisa kehilangan kemampuan menulis sama sekali.

« Older Entries