Sibok
Seperti tidak akan sempat nulis apa-apa sampai tanggal 1 November deh. Lagi sibuk buk buk buk sama kerjaan. (SADIBA* mode on)
*SADIBA: Salah Dikit Bacok
Seperti tidak akan sempat nulis apa-apa sampai tanggal 1 November deh. Lagi sibuk buk buk buk sama kerjaan. (SADIBA* mode on)
*SADIBA: Salah Dikit Bacok
Hari Sabtu kemarin kugembira. Karena pak pos membawa berita dari yang kudamba. Bukan berita sih sebenarnya, tapi sebuah paket. Paket spesial dari Israel!
Ya, hampir satu bulan lalu saya memesan sebuah kippah hand made dari Israel dan setelah ditunggu-tunggu dengan cemas (takut barang dari Israel nggak bisa masuk ke Indonesia) akhirnya datang juga. Dan bukan hanya itu, didalam paket kecil yang saya terima juga diselipkan sebuah kippah lagi sebagai bonus plus sebuah CD musik bertajuk ‘Israel in Song’ sebagai hadiah. Aaahh…senangnya!!!
Seperti telah diatur waktunya oleh yang Maha Mengatur Waktu, kippah itu datang tepat dihari Shabbat dan Simchat Torah dihari berikutnya. Semuanya jadi pas dan mengharukan.
Buat yang belum tau apa itu kippah, ini dia fotonya! Itu tuh yang menempel di kepala saya. (Pasti abis ngliat langsung manggut-manggut sambil bergumam ‘oohh…itu toh…!!!’)

Setidaknya 3 kali makan ayam KFC masing-masing 4 potong. Semua gara-gara Ilham!
Semua data di Blackberry hilang (di wipe) gara-gara account ter-suspended dengan alasan yang tidak jelas.
Sedang membaca buku ‘Negeri 5 Menara’ dan mendadak menyesal kenapa dulu nggak kepikiran untuk masuk Gontor.
Mulai lapar lagi dimalam hari dan mulai makan lagi. Diet yang gagal (lagi).
Makin sebal sama orang yang nggak tau diri. OMG! Nggak nyangka dia se bitchy itu. Gonta-ganti nggak karuan.
Dapet temen yang mau ngajarin bahasa Perancis lagi. Horree!!!
Bales-balesan comment di facebook sama orang-orang kampungan yang nggak penting sampai akhirnya harus me-remove si penyebab semuanya itu.
Kesenengan sama browser baru dan my.yahoo! Yang lebih seru, semuanya dalam bahasa Perancis. Jadi nggak boleh jauh-jauh dari kamus kiriman pacar deh.
Silakan panggil saya kolot atau apapun, tapi yang jelas saya tidak suka di-tag di foto-foto atau gambar dimana saya tidak bisa melihat diri saya sendiri disana. Alasannya sederhana: saya tidak suka alat komunikasi saya berdering terus menerus karena menerima komentar atas foto atau gambar (yang bahkan saya tidak ada didalamnya) dari orang-orang yang tidak saya kenal.
Beberapa hari lalu seseorang men-tag saya dibeberapa buah foto macam itu (dan ini sudah untuk kesekian kalinya), akhirnya saya komentari dengan permintaan agar saya tidak usah di tag lagi di foto-foto seperti itu karena itu sangat mengganggu.
Efeknya aneh. Tanpa disangka-sangka ada beberapa orang (pastinya tidak saya kenal) yang mengatakan bahwa sebenarnya kalau saya tidak suka akan foto itu, kan dengan mudah saya bisa me-remove tag. Dan sejak itulah saya terjebak dalam saling balas komentar yang rasanya sangat tidak penting dan membuang-buang waktu, karena:
- Saya bahkan tidak kenal orang-orang itu. Bagi saya, beradu otot dengan orang yang tidak saya kenal adalah hal teraneh.
- Sejak awal saya bukan berkomentar ke mereka. Saya berkomentar ke orang yang men-tag saya. Lha koq orang-orang itu malah ikut nimbrung dan bikin urusan jadi panjang.
- Pembicaraan bahwa saya bisa dengan mudah me-remove tag adalah pembicaraan tidak berguna dimana bila memang mau tagnya di remove, ya mendingan nggak usah men-tag sejak awal.
Sebenarnya, kalau ada foto atau gambar, tanpa di tag pun, bila memang saya tertarik, pasti akan saya buka dan lihat baik-baik. Dan rasanya situs jejaring sosial di internet yang sekarang sedang marak-maraknya itu sudah sangat royal dalam memberitakan apapun hal baru yang dilakukan oleh kontak-kotak saya. Tidak perlu menghabiskan waktu untuk membuat tag yang akhirnya membuat orang harus mengeluarkan tenaga dan membuang waktu untuk me-remove-nya.