narcistbandit

I'm from no generation, I'm part of no group, I'm totally floating and this is the whole story, and why I can survive

Perjalanan itu: Day 7 (Singapura – Denpasar)

September27

Sampailah saya di akhir perjalanan ambisius 6 hari 5 negara (walaupun akhirnya jadi 7 hari gara-gara maskapai penerbangan murah milik Malaysia itu mengubah jadwal penerbangan secara sepihak). Hari ini saya punya 8 jam untuk dihabiskan di Singapura.

Tujuan pertama saya adalah sarapan disebuah tempat misterius. Selanjutnya, setelah perut kenyang perjalanan saya lanjutkan ke Little India (dimana begitu banyak toko-toko yang menjual bahan-bahan makanan khas India dan itu membuat saya iri karena memang saya suka makanan India) dan Clarke Quay (ya…ya…salah jam memang pagi-pagi ke tempat ini). Selanjutnya saya melanjutkan perjalanan ke Suntec City dan langsung terserang rasa bosan karena lagi-lagi pusat perbelanjaan yang harus saya arungi. Akhirnya perjalanan saya tutup dengan makan siang di tempat misterius dengan menu makanan India yang sumpah enak banget.

Malam itu saya kembali ke Denpasar. Akhirnya perjalanan ini harus diakhiri dengan janji akan kembali ke beberapa negara yang kemarin saya lalui untuk mengarungi daerah-daerah yang kemarin sempat terlewat.

 

Perjalanan itu: Day 6 (Kamboja – Singapura)

September21

Tidak terasa perjalanan saya kali ini hampir berakhir. Sudah saatnya berbalik arah menuju tempat saya berangkat. Dan pagi ini, jam 6, tuktuk sudah membawa saya ke bandara internasional Pochentong dipinggir kota Phnom Penh (sekitar 45 menit dari tengah kota Phnom Penh).

Ada satu hal lucu di bandara kecil ini. Portal pintu masuk tempat pengunjung mengambil tiket parkir dibuat lebih kecil daripada jalanannya supaya tuktuk bisa melipir dengan leluasa tanpa harus ambil tiket parkir. SIsanya tidak lucu lagi. Bandara kecil seadanya ini mematok airport tax sebesar USD 25 untuk setiap orang. Itu jadi terlihat sangat mahal karena tidak ada fasilitas apa-apa di bandara ini kecuali dua buah komputer yang bisa dipakai secara gratis dan fasilitas free wifi.

Penerbangan dengan Jet Star dari Phom Penh menuju Singapura memakan waktu sekitar 2,5 jam. Dan ini benar-benar penerbangan paling tidak terasa yang pernah saya jalani. Bayangkan, saya tertidur bahkan sebelum para awak pesawat selesai memperagakan penggunaan alat-alat keselamatan. Badan yang saya bawa jalan-jalan kesana kemari selama 5 hari terakhir benar-benar minta diistirahatkan.

Sampai di Singapura, ada kesalahan fatal yang saya lakukan yaitu keluar dari terminal transit (transit mall) dan ini mengakibatkan hancurnya pertahanan diri saya pada saat malam tiba dimana saya harus tidur seadanya (dengan bangku yang digabungkan agar bisa selonjor) dan tidak bisa mandi sama sekali. Mungkin karena sudah begitu tertekan badan saya hingga semua itu terasa sungguh amat menyiksa (padahal waktu di Malaysia, kejadiannya lebih parah daripada ini). Dan akhirnya, saat badan ini sudah tidak kuat lagi, saya terpaksa membayar USD 20 demi masuk ke airport lounge untuk sekedar mandi dan membersihkan diri. Dan saya harus katakan bahwa mandi saya di Changi menjelang pagi itu adalah mandi paling emosional dan mengharukan sepanjang hidup saya.

Perjalanan itu: Day 5 (Kamboja)

September21

Hari ini saya punya satu hari penuh untuk berkeliling Phnom Penh termasuk mencobai makanan khas Kamboja yang sepertinya belum terlalu dikenal di Indonesia. Untuk itu saya memesan tuk-tuk dari tempat penginapan dan membayar biaya keliling Phnom Penh seharian (08.00-18.00) seharga USD 6. (sekali lagi: sangat dianjurkan memesan tuk-tuk dari tempat penginapan atau yang dikelola oleh tempat penginapan demi alasan keamanan. Selain itu, tuk-tuk dari tempat penginapan juga menjamin harga yang tidak kemahalan).

Perjalananpun dimulai. Jalanan Kamboja yang berdebupun siap saya taklukkan. Beruntung saya mendapat supir tuk-tuk yang mampu berbahasa Inggris dengan cukup lancar. Atas sarannya pula saya mengatur urutan tempat yang akan saya datangi hari ini.


Menaklukkan jalanan di Kamboja naik tuktuk.

Killing fields of Choeung Ek

Tempat ini adalah lokasi pembunuhan dan kuburan lebih dari 17ribu manusia baik dewasa maupun anak-anak yang dibunuh secara kejam oleh kelompok Khmer Rouge pada tahun 1975-1978. Ditempat ini, layaknya di museum Lubang Buaya, bisa dilihat saksi bisu dari kejadian yang mengenaskan itu seperti rumah-rumah kayu, pohon tempat penyiksaan, lubang-lubang tempat mayat ditimbun, dan lain-lain.
Di bagian depan killing fields ini, berdiri sebuah monumen penghormatan yang didalamnya tersimpan lebih dari 9ribu tengkorak manusia dan baju-baju para korban pembunuhan massal ditempat ini. Dibagian lain, ada juga pemutaran film berdurasi +/- 10 menit yang bercerita tentang kejadian di killing fields ini.
Catatan 1: Ada tukang bunga didepan monumen penghormatan yang katanya memberi bunga secara sukarela tapi akhirnya minta bayaran minimum USD1.
Catatan 2: Killing fields of Choeung Ek ini pada tahun 2005 diprivatisasi dengan dijual kepada sebuah perusahaan Jepang yang kemudian mengurus dan memungut biaya bagi mereka yang ingin masuk dan melihat tempat ini. Hal ini membuat keluarga korban merasa sedih dan tersinggung karena menganggap bahwa sanak keluarga mereka yang tewas ditempat itu dikomersilkan.


Monumen penuh dengan tengkorak korban pembunuhan massal.

Tuol Sleng Museum

Adalah sebuah bangunan sekolah yang pada masa Khmer Rouge berkuasa dijadikan penjara dan tempat penyiksaan orang-orang yang dianggap membahayakan pemerintah sebelum akhirnya dibunuh di Choeung Ek.
Orang-orang yang dianggap membahayakan pemerintah pada masa itu adalah mereka yang berpendidikan tinggi termasuk guru-guru dan dosen (dan keluarganya), orang-orang yang bisa berbahasa Inggris (dan keluarganya), orang-orang yang duduk dalam pemerintahan yang berhasil digulingkan oleh Khmer Rouge (dan keluarganya), dan orang-orang yang punya hubungan dengan orang-orang Barat (dan keluarganya). Mereka dianggap berbahaya karena Khmer Rouge ingin membentuk sebuah negara dengan rakyat yang otaknya kosong agar bisa menerima nilai-nilai baru yang mereka ajarkan tanpa banyak bertanya ataupun melawan.
Ditempat inilah lebih dari 100 orang perhari disiksa dengan alat-alat yang mengerikan yang masih bisa dilihat didalam museum ini sampai sekarang. Mereka yang tewas dalam penyiksaan dikuburkan di bagian depan museum ini.
Mengunjungi museum yang terdiri dari dua gedung besar masing-masing berlantai tiga ini memang butuh keberanian ekstra. Alat-alat penyiksaan yang masih asli, foto-foto penyiksaan, foto-foto korban, deorama, dan berbagai ilustrasi di setiap ruangan di museum ini benar-benar membuat suasana mencekam dan bulu kuduk berdiri. Tapi bagaimanapun, mengunjungi museum ini sangatlah penting untuk bisa memahami Kamboja dimasa kini.
Saran saya: bagi yang tidak terlalu berani, jangan terlalu jauh masuk ke ruangan-ruangan di museum ini.

 


Salah satu gedung Tuol Sleng Museum



Beberapa foto dan ilustrasi penyiksaan di Tuol Sleng

Merasa cukup dengan tour kesedihan, saya memutuskan untuk makan siang. Pilihan jatuh pada sebuah restoran di jalan Sisowath Quay dengan pemandangan ke sungai Tonle Sap yang mengalir tenang, bernama Khmer Borane. Direstoran yang teduh karena dinaungi pohon rindang ini saya mencobai beberapa makanan khas Khmer. Yang patut dicoba adalah ikan yang dimasak dengan gula merah. Rasanya yang manis-manis gurih, sangat cocok dimakan dengan nasi hangat.

Setelah makan siang, iseng-iseng berjalan disepanjang sungai Tonle Sap, saya menemukan sebuah tempat untuk bersantai sambil menikmati secangkir kopi. Namanya Foreign Correspondent’s Club atau yang biasa dikenal dengan FCC. Ditempat ini, dari lantai duanya bisa dilihat jalanan ditengah kota Kamboja yang cukup tenang dan tentunya sungai Tonle Sap yang menyenangkan.
Yang patut dicoba di FCC adalah Khmer snack platternya yang terdiri dari lima makanan kecil khas Khmer. Dijamin cukup kenyang dan mampu membuat lidah menarik kesimpulan bahwa makanan Khmer rupanya tidak jauh-jauh rasanya dari makanan Jawa yang serba manis.


Makanan kecil khas Khmer yang nggak beda sama makanan kecil di Jawa.

Satu restoran lagi yang tenar dan boleh dicoba (kalau mau) adalah Happy Pizza yang letaknya masih dijalan yang sama. Happy Pizza memang bukan hanya nama, tapi benar-benar bisa membuat happy karena menawarkan pizza a la ganja. Tentu saja topping yang satu itu tidak disebutkan dengan jelas di daftar menu, tapi dengan satu kedipan saja, maka mbak-mbak pelayan akan tau apa yang kita mau.

Puas makan, saya mengajak Agogo (si supir tuk-tuk) berjalan-jalan keliling kota. Bergerak dari satu tempat ke tempat lain tanpa berhenti, hanya lewat saja. Cukup menyenangkan rupanya sore hari di Kamboja dimana burung-burung merpati masih mau turun mendekati manusia yang menyebarkan makanan di taman tengah kota.

Dining for a cause

Di Kamboja, salah satu hal yang tidak boleh terlewatkan adalah “Dining for a Cause” yang merupakan program dari NGO untuk membantu kelompok-kelompok masyarakat yang kurang beruntung dengan mendirikan restoran-restoran. Dari keuntungan restoran-restoran itulah dana dikumpulkan dan dipakai untuk menjalankan program demi membantu mereka yang membutuhkan.
Salah satu restoran yang saya cobai adalah Romdeng. Restoran ini merupakan restoran yang keuntungannya diperuntukkan bagi program-program yang membantu anak jalanan. Restoran ini sekaligus menjadi restoran training tingkat dua bagi anak-anak jalanan yang tertarik untuk bekerja di dunia kuliner. Mereka yang training di Romdeng adalah anak-anak jalanan yang telah lulus dari pelatihan sebelumnya dimana mereka harus memasak dan menyajikan makanan bagi teman-teman sesama anak jalanan lain ditempat penampungan.
Bagi mereka yang lulus dari Romdeng, ada restoran training tingkat ketiga, yaitu Friends (letaknya didekat Khmer Borane).
Tapi jangan berpikir bahwa restoran training ini adalah restoran ala kadarnya dengan makanan yang seadanya. Romdeng menempati bangunan rumah berarsitektur Eropa lengkap dengan kolam renang apik dibagian belakang. Tempat makannya begitu nyaman dengan tata cahaya yang romantis. Makanannya pun enak-enak dengan pelayanan yang ramah dan siap menerangkan apa-apa saja makanan yang ada di menu.
Selain menyajikan makanan, Romdeng juga menjual aneka kerajinan hasil karya anak-anak jalanan. Hasil kerajinan itu bisa dilihat sendiri di meja makan karena memang Romdeng sebanyak-banyaknya menggunakan aneka peralatan makan (seperti serbet, tatakan gelas, tatakan piring, dan lain-lain) hasil karya anak-anak jalanan.

Bila ditanya apa yang membuat saya ingin kembali ke Kamboja lagi, maka jawaban saya tidak lain adalah karena saya ingin melakukan lagi dining for a cause.

Perahu Kertas

September14

BREAKING NEWS: Ditengah usaha mengingat-ingat rangkaian perjalanan enam hari dengan otak yang mulai karatan dimakan usia ini, saya menemukan sebuah buku bercover unik karya Dee alias Dewi Lestari. Judulnya “Perahu Kertas”. Dan karena itulah saya harus memotong jurnal perjalanan enam hari kemarin untuk menyisipkan sebuah review.

Buku berjudul Perahu Kertas bercerita tentang dua tokoh sentral bernama Kugy dan Keenan. Dari namanya saja sudah unik dan memang digambarkan bahwa karakter masing-masing tokoh itu unik, aneh, dan luar biasa. Kugy dengan kegemarannya berkhayal lengkap dengan kecuekan dan keberantakan penampilannya dan Keenan dengan bakat melukis serta ketampanan dan kekeraskepalaannya.

Kedua karakter ini kemudian dipertemukan dalam aneka kebetulan dan kemudian ceritapun berlanjut dengan bagaimana mereka saling mengagumi dan akhirnya jatuh cinta satu sama lain. Kisah cinta inilah yang kemudian diaduk-aduk dibumbui dan akhirnya jadi panjang sebuku (440 halaman).

Bagi saya, seperti yang dikatakan oleh penulisnya sendiri, buku ini membuat efek kaget karena tidak menyangka akan berisi kisah percintaan a la ABG. Dari halaman ke halaman saya berharap akan mendapatkan cerita yang lebih dewasa, tapi rupanya saya harus kecewa karena hingga diakhir buku, saya tidak menemukannya. Memang di beberapa bagian ada nilai-nilai dewasa, tapi tetap saja secara keseluruhan buku ini cenderung ke-ABG-ABG-an.

Yang menarik dari buku ini adalah formatnya yang seperti cerita bersambung (cerbung). Karakter tokoh-tokoh dalam novel ini dibangun secara perlahan dan detail, begitu juga dengan jalan ceritanya. Ini membuat pembaca menjadi penasaran dan ingin cepat-cepat membuka dan membaca halaman demi halaman. Namun sayang, di beberapa bagian, format ini terasa amat dipaksakan hingga terasa begitu membuang-buang waktu. Ceritanya yang mudah ketebakpun ikut memperparah rasa itu.

Namun walau bagaimana, buku ini berhasil membuat saya meneteskan airmata karena merasa seperti berada dalam beberapa peristiwa yang diceritakan didalamnya. Beberapa karakter tokoh dan bagaimana mereka menjalani konflik-konflik yang terciptapun ikut membawa emosi saya naik-turun. Ini bukti bahwa Dee sesekali berhasil mencemplungkan saya kedalam larutan emosi tulisannya.

Jadi, secara keseluruhan buku ini saya nilai sebagai LAYAK PINJAM.

« Older Entries