narcistbandit

I'm from no generation, I'm part of no group, I'm totally floating and this is the whole story, and why I can survive

Perjalanan itu: Day 1 (Denpasar – Singapura – Malaysia)

August28

Akhirnya waktu untuk memulai perjalanan itupun datang. Ide yang sudah dibuat jauh-jauh hari mulailah dibuat menjadi kenyataan. Sayapun berangkat subuh-subuh dari rumah untuk mengejar pesawat ke Singapura yang berangkat pukul 06.55 WITA. Airport masih sepi. Tempat check-in pun baru saja dibuka saat saya tiba disana. Tiba lebih awal memang menguntungkan karena saya bisa beristirahat-istirahat sebentar setelah segala urusan tiket-airport tax-mengurus bebas fiskal (sangat mudah mengurus bebas fiskal: tinggal tunjukkan kartu NPWP, tanpa foto copy ini dan itu, beres!)-dan imigrasi selesai.

Pukul 06.55 WITA saya bertolak menuju Singapura. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 2,5 jam ini lagi-lagi saya manfaatkan untuk beristirahat. Maklumlah, malam sebelumnya saya tidak tidur karena masih mengurus kerjaan yang bertumpuk. Selain itu, di Singapura nanti (yang hanya beberapa jam) saya butuh energi banyak untuk berjalan-jalan dan mengarungi negara kota itu.

Sekitar pukul 09.30, saya tiba di Singapura. Tidak ada perbedaan waktu antara Denpasar dengan Singapura. Begitu sampai, saya langsung bertukar pakaian di toilet airportnya yang bersih dan rapi (juga wangi) lalu mengurus imigrasi. Tidak sulit tentunya karena untuk masuk ke Singapura, warga negara Indonesia tidak membutuhkan visa.

Beres urusan imigrasi, saya mendatangi pusat informasi pariwisata yang letaknya didekat pintu keluar. Disitu saya diberi penjelasan dengan sangat ramah oleh petugas. Mereka juga siap dengan berbagai brosur berisi peta dan penjelasan tentang kemana saya enaknya pergi dan bagaimana saya bisa sampai kesana. Beberapa informasi penting yang mereka berikan pada saya adalah informasi tentang bagaimana menjelajah Singapura naik S.M.R.T (Singapore Mass Rapid Transport) dan dimana tempat penitipan barang untuk backpack saya yang akan sangat berat bila saya gendong kemana-mana.

Stasiun S.M.R.T
Di bandara Changi, stasiun S.M.R.T atau yang biasa disebut juga dengan M.R.T, terletak di terminal 2. Untuk menuju terminal 2 dari terminal lain terdapat angkutan yang bernama Sky Train dan Shuttle Bus. Untuk naik kedua angkutan tersebut tidak dipungut biaya alias gratis.

Di Stasiun M.R.T Bandara Changi bisa dibeli dua macam tiket (berbentuk kartu seperti kartu ATM). Pertama adalah tiket sekali jalan. Tiket jenis ini hanya berlaku untuk satu tujuan. Harganya berkisar antara SGD 2-4 dengan biaya deposit SGD 1 (deposit ini akan dikembalikan ke pembeli dengan cara mengembalikan tiket ke mesin-mesin pembelian tiket di stasiun M.R.T manapun). Kedua adalah tiket turis (Singapore Tourist Pass). Tiket ini bisa dipakai untuk berbagai tujuan dengan hanya sekali bayar. Harga tiket kedua ini adalah SGD 8 per hari (maksimum 3 hari) dengan biaya deposit SGD 10 (deposit akan dikembalikan dengan cara menyerahkan tiket ke loket-loket pembelian Singapore Tourist Pass dimanapun). Tidak semua stasiun menyediakan loket pembelian (dan pengembalian) Singapore Tourist Pass. Stasiun-stasiun yang menyediakan loket pembelian (dan pengembalian) Singapore Tourist Pass adalah: Changi airport (12.00-15.45 & 16.45-19.30), Orchard (10.00-21.00), Chinatown (10.00-15.45 & 16.45-21.00), City Hall (08.00-21.00), Raffles Place (08.00-21.00 hari kerja, 08.00-17.00 hari Sabtu. Hari Minggu dan hari libur tutup), Ang Mio Kio (08.00-21.00 hari kerja & Sabtu, 09.00-21.00 hari Minggu dan hari libur), HarbourFront (10.00-15.45 & 16.45-21.00), Bugis (10.00-21.00).


Stasiun MRT di bandara Changi


Iklan film UP nan lucu di jendela MRT.

Tempat penitipan tas
Bagi yang berjalan-jalan tanpa menginap di Singapura, ada fasilitas di bandara Changi yang bisa dimanfaatkan yaitu tempat penitipan tas. Untuk menuju tempat ini, cukup mengikuti petunjuk bertuliskan LEFT BAGGAGE. Biaya penitipan tas adalah sekitar USD 3 per tas per 24 jam. Harus diingat bahwa tempat penitipan tas ini tidak membolehkan penggunanya untuk bolak-balik mengambil barang. Jadi, bawa barang seperlunya untuk jalan-jalan dan tinggalkan yang tidak perlu di penitipan.


Milih-milih mana barang yang mau dititipin dan mana yang mau dibawa jalan-jalan.

Setelah semua beres, jadilah saya berjalan-jalan untuk beberapa jam di Singapura. Karena banyak tempat di Singapura yang lebih menyenangkan bila didatangi pada sore dan malam hari, maka siang itu saya memilih untuk berjalan-jalan di jalan Orchard saja. Seperti yang telah diketahui banyak orang, jalan Orchard adalah sebuah jalan dengan deretan mal dari ujung ke ujung. Bagi saya tidak ada yang istimewa dengan tempat ini. Mungkin karena tujuan perjalanan saya memang bukan untuk berbelanja. Saya malah memilih untuk makan siang disebuah pertokoan tua dengan harapan cita rasa masakan Singapura belum terlalu encer disini.


Pemandangan pertama saat keluar dari stasiun MRT di Orchard Rd.


Seni instalasi ditengah kepungan mal.


Menemukan benda yang paling sulit saya cari sepanjang masa.

Jam 17.00 saya kembali ke Changi karena pesawat saya berikutnya adalah jam 21.20 menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Check-in cepat di bandara Changi tidaklah membosankan. Semua fasilitas di bandara internasional itu membuat menunggu menjadi menyenangkan. Ada fasilitas internet gratis dengan 500 komputer yang tersebar dimana-mana, juga free wifi dan laptop station untuk yang membawa laptop. Ada kolam renang dan fitness center untuk yang mau berolahraga. Ada bioskop gratis, ada tempat bermain anak-anak, ada begitu banyak restoran dan cafe juga toko-toko bebas bea. Pokoknya, tidak masalah beristirahat di bandara itu sambil menunggu penerbangan berikutnya.


Fasilitas internet gratis di bandara Changi.


Fasilitas charger gratis untuk berbagai macam gadget.

Jam 21.20 saya bertolak ke Kuala Lumpur, Malaysia dan tiba pukul 22.30. Tidak terlalu banyak yang saya lakukan di negara ini karena pusat kotanya begitu jauh dari bandara. Saya hanya makan malam di bandara lalu naik shuttle bus ke hotel seorang teman anggota Couch Surfing untuk mandi dan bersih-bersih. Selanjutnya kami ngobrol-ngobrol dan saat ngantuk menjemput, saya kembali ke bandara untuk tidur.

Harap diingat: bandara di Kuala Lumpur tidak buka 24 jam, begitu juga kafe-kafenya. Jadi, bila ingin menginap di bandara, bersiap-siaplah untuk tidur di pelataran airport seperti yang kemarin saya lakukan. Seru juga sih, lumayan untuk pengalaman.

(Tidak ada dokumentasi foto di Malaysia sebagai bentuk protes atas apa yang sering dilakukan negara itu terhadap Indonesia)

Perjalanan itu: Ide

August27

Ide perjalanan 5 negara dalam 6 hari muncul ketika saya mendapat tiket murah ke Singapura. Awalnya hanya akan melancong ke negeri singa itu saja, tapi setelah dipikir-pikir bahwa pengeluaran saya akan sangat banyak di negara belanja itu, maka saya mulai berburu tiket murah ke negara-negara lain yang bisa digapai dari Singapura.

Malaysia salah satunya. Awalnya perjalanan Singapura – Malaysia ingin saya tempuh melalui jalan darat. Namun atas masukan seorang teman yang mengatakan bahwa perjalanan dengan pesawat jauh lebih murah dan menyenangkan daripada perjalanan darat, maka sayapun membeli tiket pesawat Singapura – Malaysia. Lagi-lagi dengan harga murah. Berikutnya dari Malaysia, saya tergiur oleh pilihan negara-negara yang bisa digapai. Kebetulan, maskapai penerbangan bertarif murah yang saya tumpangi memang berpusat di Malaysia, jadi begitu banyak pilihan untuk terbang kemana saja.

Vietnam menjadi pilihan saya. Tapi Vietnam bagian mana? Awalnya tergiur untuk ke Hanoi karena akan lebih dekat bila saya ingin ke kota Da Nang (saya sungguh berambisi untuk pergi ke kota ini karena dari nama kota itulah nama saya diambil. Cerita lucu tentang bagaimana nama saya ini menimbulkan bermacam kehebohan di Vietnam, akan saya jabarkan di tulisan saya tentang Vietnam nanti), tapi selain tiket ke Hanoi lumayan mahal, banyak teman saya juga sudah melancong kesana. Saya ingin yang beda. Yang unik. Yang aneh. Kalau perlu, yang menyeramkan. Ho Chi Minh lah menjadi pilihan.

Di Vietnam, saya ingin mengunjungi satu provinsi lain yaitu Hue (ini adalah ambisi saya dan seorang sahabat saya. Semua bermula ketika kami berdua membahas Amazing Race Asia season 3 dan tertarik dengan nama kota yang bila dilafalkan oleh orang Vietnam menjadi begitu lucu). Untuk itu saya harus tinggal beberapa hari di Vietnam.

Dari Vietnam ada 2 pilihan negara yang bisa digapai melalui jalan darat: Kamboja dan Laos. Tapi dari Ho Chi Minh, Kamboja lah yang lebih dekat. Maka pencarian informasi tentang perjalanan darat Ho Chi Minh – Phnom Penh pun dimulailah. Informasi tentang bus, keberangkatan, dan lama perjalanan sudah ditangan. Semua sudah tampak siap hingga beberapa hari sebelum dimulainya perjalanan ini saya tidak sengaja membaca artikel disebuah majalah yang mengatakan bahwa walaupun Kamboja adalah anggota ASEAN, tapi warga negara Indonesia yang ingin memasukinya harus memiliki visa. Ini terasa tidak adil mengingat warga negara lain (baik anggota ASEAN maupun bukan) banyak yang dibebaskan dari visa. Tapi ya mau apa lagi. Jadilah saya mencari lagi informasi tentang mengurus visa ke Kamboja.

Perjalanan pulang adalah penerbangan Phnom Penh – Singapura melalui udara. Ini karena tiket Denpasar – Singapura saya adalah tiket pulang pergi. Jadi ya harus ke Singapura lagi sebelum sampai ke Denpasar.

Dan hari itu datanglah juga

August20

Saya pamit jalan-jalan dulu yaaa…!! Janji akan berbagi disini koq sepanjang perjalanan…

Berbagi mimpi

August11

Waktu masih menunjuk pukul 8 pagi di Bali alias jam 7 pagi di Jakarta ketika saya tersadar bahwa ada seorang teman yang tumben-tumbenan YM nya sudah aktif. Padahal dia di Jakarta lho!

“Lho?? Koq udah dikantor pagi2 gini?” Saya.
“Iya, tadi nebeng kakak ipar, eh malah kepagian.”
“Jalanan nggak macet ya?”
“Tadi udah lumayan tersendat sih.”
“Ih, Jakarta….mengerikan”

Kata-kata saya terakhir itu lalu membawa obrolan kami ke mimpi-mimpi teman saya untuk meninggalkan kota penuh sesak bernama Jakarta. Ia memulai dengan mengatakan bahwa ia ingin punya rumah di sekitar Bogor. Lepas dari Jakarta, tapi tetap tak terlalu jauh dari pusat kota. Terus dan terus berlanjut hingga bagaimana ia akan mengisi rumahnya, memanfaatkan rumahnya, serta apa yang akan ia dan istrinya lakukan tiap harinya.

Mimpinya begitu lengkap. Sayapun tertegun. Belum pernah saya punya mimpi selengkap itu. Saya jadi ingat bagaimana saya yang adalah anak satu-satunya dalam keluarga begitu tak hirau akan masa depan. Saya tidak pernah berpikir bahwa akan ada yang saya tinggalkan. Hidup ya sekarang ini. Kalau mati ya sudah, mati. Tidak ada yang akan saya tinggalkan. Itu sebabnya saya tidak pernah tertarik untuk ikut asuransi. Buat apa saya ikut asuransi? Siapa yang nantinya menikmati uang saya setelah saya mati?

Tapi kemudian pemikiran saya berubah ketika saya tidak sendiri lagi. Ketika saya merasa ada bagian dari diri saya yang berada diluar tubuh ini. Dan cita-cita bersama pun dibentuk. Kami mulai berpikir tentang rumah seperti apa yang akan kami bangun. Dimana kami akan membangunnya. Apa saja isinya dan lain sebagainya. Persiapan kesanapun dilakukan. Kami mencoba mengambil langkah-langkah kecil untuk mewujudkan cita-cita itu. Langkah-langkah kecil itu mungkin belum berarti apa-apa sekarang, tapi setidaknya langkah itu sudah kami ambil.

Waktu menunjuk pukul 09.30 di Bali ketika berbagi mimpi itu makin menggila. Teman saya mengajak untuk menuliskan langkah-langkah apapun yang kami lakukan untuk mencapai mimpi masing-masing. Tulisan ini bentuknya seperti jurnal harian. Disana kami boleh menulis apa saja, bahkan hal yang sangat kecil yang menurut kami adalah bagian dari mewujudkan mimpi.

Saya tersenyum. Teringat bagian dari diri saya yang jauh disana. Dan saya kangen dia.

« Older Entries