narcistbandit

I'm from no generation, I'm part of no group, I'm totally floating and this is the whole story, and why I can survive

Scooter roda tiga

May28

Pagi ini nonton berita tentang betapa nyamannya mengendarai scooter roda tiga keluaran sebuah pabrik tenar asal Italia. Katanya sih stabil banget dan dari video yang diputar, kalau berhenti di lampu merah nggak usah pake nurunin kaki. Cukup duduk nunggu aja kayak didalam mobil. Aaahh…jadi pengen. Gimana, Cha?

Blue Lagoon

May22

Kemarin saya dan beberapa teman sepakat berpiknik ke Blue Lagoon, sebuah pantai yang terletak di daerah Padang Bai, sekitar 105 kilometer dari Denpasar. Pejalanan berangkat kami tempuh dalam waktu sekitar 3 jam. Ini bukan murni perjalanan dari Denpasar ke Padang Bai, tapi adalah total dari: rumah-tukang laundry langganan-balik ke rumah karena snorkel dan buku ketinggalan-beli gorengan sekantong plastik gede-Kuta-jemput teman yang satu lagi-isi bensin-Padang Bai. Waktu tempuh murni Denpasar-Padang Bai sih cuma sekitar 1,5 jam saja.

Perjalanan berangkat cukup seru. Mulai dari bertukar kangen karena saya sudah lama tidak bertemu dengan salah satu teman, hingga obrolan yang seru tentang ‘burung-burung’ favorit teman saya. Total perjalanan perjalanan 3 jam jadi tidak terasa. Rute yang kami ambil adalah: Denpasar-Ketewel via by pass Ida Bagus Mantra-terus ke Padang Bai. Dan inilah pemandangan dari dashboard mobil kami:

Setiba di Blue Lagoon, kami langsung terpesona dengan airnya yang jernih dan pemandangannya yang indah. Udara juga sangat bersahabat, cerah walau lumayan panas. Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari tempat duduk untuk menaruh bermacam barang di salah satu cafe tradisional yang dikelola masyarakat sekitar (hanya ada 2 cafe tradisional di Blue Lagoon). Tidak ketinggalan kami memesan kelapa muda segar untuk diminum sebelum nyemplung ke laut lepas.

Aya dan Ella bersiap snorkeling. Dan percayalah bahwa cowok di belakang Ella sempat kami culik waktu pulang. Sayang hotelnya terlalu dekat, jadi nggak sempat ngobrol panjang dan bertukar facebook.

Kegiatan membedah dan memperkosa kelapa muda.

Persiapan akhir sebelum snorkeling.

Dan snorkeling pun dimulai. Matahari yang panas berubah menjadi hangat ketika air sudah meliputi tubuh. Ikan-ikan beraneka rupa yang berenang begitu dekat dengan kami terasa menyejukkan mata. Tidak bosan-bosannya saya berenang tanpa henti, semakin ketengah, semakin beraneka saja ikan yang saya lihat. Hingga akhirnya, karena terbawa suasana kaki saya terantuk karang dan sedikit terluka. Perihnya lumayan (luka plus air asin memang mantap) tapi ya kenikmatan memandangi pamandangan bawah air rupanya mengalihkan (sesaat) perhatian saya. Luka dan perih tidak terasa lagi. (Note to self: kalau lagi sedih atau bahkan perih, mungkin ada baiknya mengalihkan pikiran ke hal-hal yang menyenangkan biar nggak kerasa lagi sedihnya).

Snorkeling selesai. Bersih-bersih seadanya (menyemprot diri dengan air yang keluar dari sebuah alat penyemprot yang biasa ada di toilet) juga selesai. Makan siang adalah tujuan berikutnya. Ada sebuah menu yang saya rekomendasikan di tempat terpencil ini: Ikan Mahi-Mahi goreng tepung. Harganya hanya 28 ribu rupiah saja, tapi porsinya massive! Benar-benar besar dan enak. Harga itu sudah termasuk nasi putih, sayuran, dan sambal matah khas Bali.

Hari yang indah ini kami akhiri dengan suara seruputan kopi (sebagai dessert) dan rencana untuk bepergian ke Lombok atau Lembongan.

Survival kit di Bali: Sunblock, kelapa muda, dan kopi (plus gula juga boleh). 

Masih jauh??

May21

Kemarin ngliat rambu-rambu penunjuk jalan ini di dekat bandara Ngurah Rai, Bali. Pertanyaannya: Lovina masih jauh nggak??

Bermotor akhirnya

May18

Alih-alih menulis babakan perjalanan ke Jakarta kemarin, hari ini saya malah tergelitik untuk menulis pengalaman sore ini yang berangin.

Ceritanya dari kemarin saya sibuk menelpon pak Wayan (begitu banyak Wayan disini, pemilik rumah yang saya sewa, pemilik laundry kiloan langganan, pedagang masakan China di pasar Kerobokan, dan pemilik persewaan sepeda motor. Nah, Wayan yang terakhirlah yang saya telpon) karena udah gatel ingin naik motor merasakan hembusan angin khas Sunset Road yang bukan hanya sepoi-sepoi tapi nabok bagai badai. Dan usaha keras itu akhirnya mendatangkan hasil. Sekitar jam 3 sore, pak Wayan datang membawa sebuah motor bertransmisi otomatis.

Tanpa pikir panjang, saya langsung berganti pakaian dan meloncat keatas sepeda motor kecil itu (semua orang memang protes bahwa saya nggak cocok pakai motor sekecil itu. Tampak seperti gajah sirkus katanya). Dan Sunset Road, Seminyak, Legian, Pantai Kuta, saya gasak semua! Tidak menyangka begitu rindu saya melihat pemandangan khas Bali yang nggak akan bisa didapat kalau nggak naik sepeda motor.

Dan itulah sore saya. Menyegarkan dan menyenangkan.

« Older Entries