October30
Silakan saja saya dibilang orang yang iri dan dengki, tapi jujur, saya muak melihat site teman-teman saya yang memajang foto, video, cerita, atau apapun tentang bayinya secara berlebihan. Kalau satu-dua entry atau sekali-sekali sih wajar, tapi kalau seluruh foto yang dipajang adalah foto bayinya? Seluruh cerita yang ditulis panjang lebar adalah tentang bayinya? Mmm…sepet ya…
Pagi ini saya serasa dapat angin. Nemu blog ini dari blog seorang teman. Isinya tentang pandangan dua orang, yang satu menikah dan yang satu lagi lajang. Si lajang dalam salah satu entrynya nyebut bahwa ada perempuan menikah tertentu yang dia hindari. Perempuan menikah tertentu itu adalah mereka yang kalau bertemu (let’s say 3 jam), akan menghabiskan waktu itu dengan terus-terusan bercerita tentang anaknya. Yang sekarang udah mulai bisa jalan lah, mulai bisa ngomong lah, yang kemarin habis jatuh lah, habis imunisasi lah, badannya anget lah, ini lah, itu lah.
Memang sih, bisa dipahami bahwa perkembangan anak adalah hal yang sangat menarik bagi orangtua apalagi yang baru memiliki pengalaman itu. Tapi kalau diceritakan berkali-kali dan dalam tempo yang panjang tanpa henti, kayaknya nggak sedep juga ya.
So, mmm…
October27

“It’s like a traffic jam when you’re already late
It’s a no-smoking sign on your cigarette break
It’s like ten thousand spoons when all you need is a knife
It’s meeting the man of my dream
And then meeting his beautiful wife
And isn’t it ironic, don’t you think” -Alanis Morissette, Ironic (1995)
Seorang sahabat lama tiba-tiba menulis sebaris lyric lagu Ironic nya Alanis Morissette di status YM-nya. Saya terdiam membacanya dan segera memberikan salut atas pilihan statusnya yang menurut saya OK bgt! “It’s like ten thousand spoons when all you need is a knife.”
Hidup memang penuh ironi, setidaknya menurut saya. Nggak sedikit saya mendengar cerita dari teman-teman atau bahkan saya merasakannya sendiri. Ada teman yang cinta setengah mati pada seseorang dan saya bisa jadi saksi betapa teman saya itu cinta mati pada orang itu, tapi sayangnya dia ditolak. Orang itu malah sibuk mengejar orang lain yang tidak jelas, dan bukan hanya saya yang bilang bahwa orang yang dikejarnya itu bukanlah orang yang baik.
Ada lagi teman yang cerdas dan punya kemauan, tapi tidak punya kesempatan untuk bisa bersekolah. Kebalikannya, ada teman yang dipaksa-paksa oleh orangtuanya untuk sekolah, eh malah nggak mau dan milih untuk berfoya-foya nggak jelas.
Nggak kalah ironisnya ketika seorang teman lain memutuskan untuk resign dari kantor lamanya untuk pindah ke perusahaan baru. Dan belum sampai satu tahun, perusahaan baru tempatnya bekerja bangkrut. Sekarang nasibnya belum jelas. Sementara kantor lamanya, berkembang pesat sat sat!
Biarlah tulisan ini saya tutup dengan lyric lagunya Alanis lagi, silakan simpulkan sendiri maknanya.
“Well, life has a funny way of sneaking up on you
When you think everything’s okay and everything’s going right
And life has a funny way of helping you out, when
You think everything’s gone wrong and everything blows up
In your face.” -Alanis Morissette, Ironic (1995)
October24
Waktu yang ditunggu-tunggu dalam satu minggu akhirnya datang juga! Weekend! Akhirnya! Dan banyak yang spesial di weekend ini di Bali. Salah satunya adalah penutupan Kuta Karnival yang dilakukan dengan menggelar Food Festival! Buat yang belum tau, gini kira-kira gambarannya:
Kuta Karnival adalah sebuah rangkaian acara yang bersifat komunitas yang awalnya digagas oleh asosiasi pedagang kecil di daerah Kuta dalam rangka ‘recovery’ Bali dari kaburnya wisatawan akibat berbagai hal. Dalam Kuta Karnival yang biasanya diadakan selama satu minggu, terdapat begitu banyak kompetisi. Mulai dari kompetisi surfing, kompetisi skateboard, kompetisi layangan, tarian daerah, dan yang nggak kalah seru adalah Food Festival sebagai penutup seluruh rangkaian acara.
Food Festival sendiri adalah acara yang paling saya gemari. Dalam Food Festival, jalan Melasti di pinggir pantai Kuta, ditutup dan dipenuhi oleh ratusan booth makanan dan minuman. Semua diobral! Harganya murah-murah banget sampai bisa-bisa perut pecah kalau nggak bisa nahan diri. Hehehe. Hampir semua restoran membuka booth disini. Semuanya menawarkan harga murah dengan porsi besar. Yang nggak kalah seru, kedai penjual liqour juga nggak mau kalah. Mereka obral seluruh minuman hasil racikan khas bartender mereka. Tahun lalu, gelas bukan lagi tempat untuk menaruh campuran minuman beralkohol ini, tapi ember-ember kecillah yang jadi tempatnya. Walhasil, hanya dengan beberapa ribut rupiah saja, saya bisa menikmati seember kecil minuman penyegar otak ini! Hahaha…
So, Kuta Karnival, tepatnya Food Festival adalah acara tahunan yang nggak akan saya lewatkan. See you!!!
October22

adalah film yang duduk di daftar teratas film wajib tonton dalam lawatan terakhir saya ke Jakarta kemarin. Selain karena saya memang gemar nonton film bergenre horor, review seorang teman mengatakan bagus dan tak terduga, juga karena film ini nggak akan masuk ke bioskop di Bali. Yakin banget sama yang terakhir itu!
Sayangnya, karena kepadatan jadwal acara dan ketidakadaan teman yang mau menemani nonton film yang satu itu, akhirnya saya batal menyaksikannya di the Blitz. Tapi, thanks to koko DVD Mangga Dua yang selalu punya koleksi lengkap film-film aneh, akhirnya saya bisa nonton DVDnya dirumah.
4Bia sendiri dikatakan sebagai antologi film horor yang disutradarai oleh 4 orang sutradara asal Thailand. Dalam film ini, ada 4 subfilm berbeda. Yang pertama berjudul ‘Happiness’, disutradarai oleh Youngyooth Thongkonthun, bercerita tentang seorang perempuan yang kesepian dan berkoresponden via sms dengan orang yang tidak dikenalnya. Pengenalan terhadap orang itulah yang kemudian menciptakan kengerian. Subfilm kedua berjudul ‘Tit fo Tat’, disutradarai oleh Paween Purikitpanya, yang ini bercerita tentang mantra yang dibuat oleh seorang anak yang tertindas oleh sebuah geng di sekolahnya. Subfilm ketiga berjudul ‘In the middle’, disutradarai oleh Banjong Pisanthanakun, bercerita tentang empat orang sahabat yang berpetualang ke tengah hutan dan akhirnya menyadari sesuatu yang mengerikan. Dan yang keempat berjudul ‘Last Fright’ disutradarai oleh sutradara Pakpoom Wongpoom, bercerita tentang pramugari yang harus menangani ‘penumpang khusus’.
Bagi saya, subfilm yang terbaik adalah subfilm keempat. Seluruh poin yang harus ada dalam film horor benar-benar terpenuhi: terjebak di sebuah tempat yang nggak bisa lari kemana-mana, tidak ada orang yg membantu karena tidak ada yang percaya, tidak punya senjata apapun untuk melawan, dan akhirnya, ya udah, harus dihadapin deh tanpa apa-apa.
Nilai film: ditengah film horor Thailand yang sedang marak dan dikatakan sebagai salah satu negara penghasil film horor terbaik, maka film ini layak tonton.