OTW
Ya…ya…ya…postingan berikutnya akan saya lakukan dari Jakarta kota tercinta. Doakan agar malam ini saya selamat membawa macam-macam dititipan dari orang-orang aneh di Jakarta. 7 botol wine??? Yang benar saja!!!
Ya…ya…ya…postingan berikutnya akan saya lakukan dari Jakarta kota tercinta. Doakan agar malam ini saya selamat membawa macam-macam dititipan dari orang-orang aneh di Jakarta. 7 botol wine??? Yang benar saja!!!

Satu lagi film yang diangkat dari buku telah mengecewakan saya! Iya sih, ibu ini sudah mengingatkan bahwa buku dan film adalah dua hal yang berbeda. Tidak boleh dibandingkan. Tapi tetap saja saya sebagai manusia biasa, penikmat keduanya, selalu mencoba membandingkan mana yang lebih baik.
Sejak awal saya sudah pesimis bahwa film Laskar Pelangi akan dapat menggambarkan kehebatan bukunya yang memang benar-benar two tumbs up. Dan memang sejak itulah saya tidak terlalu berharap banyak tentang film ini. Tapi, gara-gara membaca resensi teman yang mengatakan bahwa filmnya cukup menyentuh, jadilah saya rela antri untuk menyaksikannya di layar lebar.
Menurut saya, film besutan Riri Riza ini terkesan keteteran dalam mencoba mengikuti alur cerita buku yang memang menakjubkan. Banyak hal indah yang tidak tergambar dengan baik. Banyak nilai menyentuh yang kehilangan makna. Dan banyak kelucuan yang menjadi hambar. Contoh kecilnya, dalam adegan pertunjukan tarian yang di koreograferi Mahar, benar-benar jauh dari apa yang tergambar gamblang di buku. Sangat jauh.
Bagi saya, film ini masuk dalam kategori so so.
Bercerita tentang kesedihannya. Kesedihan yang muncul dari sebuah kesadaran. Bahwa kebaikannya hanya tinggal kebaikan. Dia tersingkir karena fisiknya. Andaikan ia jadi orang lain. Walaupun tidak sebaik dirinya. Bahkan bisa dibilang jahat. Pujaan hati tetap ditangan.
Dia kehilangan. Kehilangan orang yang disayang. Karena suatu hal yang nggak mungkin diubahnya. Sayangnya ingin orang lain. Bukan dia. Virtual. Maya. Tidak nyata.
Dia rela memberi apa saja yang dia punya. Dia rela berusaha hingga dirinya menjadi korban. Tapi sirna. Nggak ada manfaatnya. Percuma.
Andaikan semua orang buta. Dan hanya merasa.
Sejak kecil saya benci mudik! Saya tidak suka terkurung didalam mobil yang bergerak lambat akibat macet selama ber jam-jam lamanya. Saya tidak suka kepanasan nggak karuan di jalanan yang pemandangannya itu-itu saja. Saya tidak suka bergaul dengan orang-orang di kampung ayah atau ibu. Pokoknya saya tidak suka!
And here we go again…tahun ini saat saya jauh-jauh hari sudah memutuskan untuk tidak pulang ke Jakarta, ayah dan ibu malah rajin menelpon bergantian merayu agar saya pulang. Hasilnya, saya justru membuat daftar barang yang harus saya beli mumpung di Jakarta. Jadi, saya pulang bukan untuk mudik, tapi lebih ke tidak sabar melakukan berbagai hal yang selama ini tidak bisa saya lakukan didaerah tempat saya bekerja ini.
So, pagi ini, diiringi lagu: ‘Semalam di Malaysia’nya bang Victor Hutabarat, sayapun bersiap pulang ke Jakarta.
“Aku pulang…dari rantau…bertahun-tahun di negeri orang…”