narcistbandit

I'm from no generation, I'm part of no group, I'm totally floating and this is the whole story, and why I can survive

Indonesian Idle

June29

Baru aja selesai baca buku yang berjudul sama dengan judul tulisan ini. Lumayan juga walaupun di bagian awal terasa agak norak. Maunya bergaya Metropop, tapi agak kurang kena karena nggak tau kenapa, penggambaran gaya hidup metropolitan koq nggak pas ya?!

Buku ini berkisah tentang Diandra Andriani, 23 tahun yang setelah sekian lama menjadi kutu loncat, berganti pekerjaan setiap merasa bosan, harus menerima kenyataan pahit yang bikin hidupnya jungkir balik. Ia dipecat! Dipecat dari posisinya sebagai staf artistik sebuah majalah prestisius ibu kota. Dan sejak itu, ia berada dalam keadaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya: menjadi pengangguran dan susah mendapat pekerjaan.

Banyak keunikan yang saya temukan dalam buku ini. Salah satunya adalah pilihan pekerjaan yang diambil Diandra setelah ia dipecat. Menurut saya itu agak unik kalau nggak mau dibilang kurang masuk akal.

Tapi secara keseluruhan buku ini bisa dibilang lumayan. Lumayan bisa mengisi waktu luang. Kalau Anda sedang mencari bacaan yang super ringan tanpa berharap mendapatkan nilai-nilai pelajaran dari dalamnya, buku ini bisa jadi pilihan yang tepat.

posted under Books | 1 Comment »

Chat Cafe (Up-dated)

June26

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang tempat-tempat di Bali yang enak untuk free wifi-an. Salah satunya adalah sebuah cafe kecil di ujung jalan Kunti bernama Chat Cafe. Dulu, tempat ini nyaman dan murah, koneksi wifi nya juga cepet banget.

Tapi sekarang, Chat Cafe adalah tempat yang TIDAK saya rekomendasikan lagi. Bayangin, masak mereka ngebatasin penggunaan wifi nya hanya untuk satu jam saja! Itu mah bukan free lagi namanya! Jadi sistemnya, tamu pesan makanan atau minuman, setelah itu diberi sebuah password untuk koneksi wifi yang akan otomatis terhenti setelah satu jam. Setelah itu, kalau mau konek lagi, harus mesan makanan atau minuman kedua, dan begitu seterusnya!

Ditengah persaingan cafe-cafe di Bali yang makin ketat, ditengah membanjirnya free wifi dimana-mana, Chat malah membuat strategi yang super burok! Big no no for Chat Cafe!

posted under Writing | No Comments »

Kumbakarna

June21

Ini adalah nama tokoh pewayangan yang sering ibu ceritakan kepada saya. Ya, ibu saya sebagai orang Jawa yang njawani memang hafal benar nama-nama tokoh pewayangan, silsilah, dan tentu saja kisah-kisah dalam dunia pewayangan itu sendiri. Seringkali ibu saya membandingkan sebuah peristiwa yang baru saja terjadi dengan peristiwa yang pernah terjadi dalam dunia pewayangan. Atau sering juga watak-watak individu ia bandingkan dengan watak-watak tokoh dalam pewayangan. Ibu percaya bahwa orang dengan bentuk tubuh seperti sengkuni biasanya juga berwatak seperti Sengkuni. Yang nggak tau tentang Sengkuni, bisa klik disini.

Tentang Kumbakarna sendiri, ibu pernah bercerita bahwa dia adalah tokoh bertubuh buto (bahasa Jawa untuk raksasa) tapi berhati ksatria. Dari sini jelas bahwa filosofi Jawa mengajak kita untuk tidak menilai orang hanya dari bentuk fisik, tapi lebih dari itu, hati adalah lebih penting. Bukankah sekarang banyak orang yang berwajah tampan rupawan tapi hatinya busuk?

Kisah Kumbakarna adalah kisah yang sangat menarik. Ia lahir dalam keluarga buto (yang dalam filosofi Jawa selalu identik dengan keburukan atau kejahatan) dan tidak lain adalah adik kandung Rahwana raja Alengka yang menculik Shinta. Ia tau bahwa apa yang diperbuat kakaknya adalah hal yang salah, dan berusaha menasehati kakaknya agar mengembalikan Shinta pada Rama. Namun kakaknya yang memang jahat tidak menggubris kata-kata Kumbakarna.

Pada saat pasukan Rama menyerang Alengka dan Alengka berada diambang kekalahan, Rahwana meminta bantuan Kumbakarna. Kumbakarna yang tahu bahwa ini adalah salah pun dengan sikap ksatria mengatakan bahwa ia akan ikut berperang melawan pasukan Rama. Tapi ini ia lakukan bukan untuk membela kesalahan yang telah diperbuat kakaknya, melainkan untuk membela Alengka, tanah tumpah darah yang telah memberinya hidup selama ini.

Kematian Kumbakarna adalah kisah yang menyentuh. Dengan seluruh daya upaya ia membela tanah tumpah darahnya. Dengan kekuatannya, ia berhasil memukul mundur pasukan Rama. Namun panah sakti Rama akhirnya mampu melumpuhkan Kumbakarna. Pertama panah itu memutuskan kedua tangan Kumbakarna. Tanpa tangan, Kumbakarna masih mampu menginjak-injak pasukan Rama. Lalu panah berikutnya memutuskan kedua kaki Kumbakarna. Tanpa kaki, Kumbakarna tetap berjuang dengan cara mengguling-gulingkan tubuhnya. Dan terakhir, dengan niat agar Kumbakarna tidak menderita terlalu lama, maka Rama memanah kepala Kumbakarna sehingga terlepas dari tubuhnya. Dalam kisahnya, Rama digambarkan kagum dan terkesan oleh sikap ksatria Kumbakarna.

Pertanyaannya adalah: Mana yang lebih benar, membela tanah air yang rasanya sudah tidak layak dibela namun bagaimanapun telah membesarkan dan memberi kehidupan pada kita atau menyeberang ke negara lain yang lebih terlihat lebih layak dibela (seperti kisah Wibisana, adik Kumbakarna yang menyeberang ke pasukan Rama?)

Wuiiihhh…rupanya kisah pewayangan tuh benar-benar banyak maknanya yaaaa….
Jadi kangen ibu dan cerita-cerita pewayangannya…

(Special thanks untuk Samuel Mulia yang ikut membuka pikiran saya tentang kisah ini)

posted under Philosophy | 1 Comment »

Teman Palsu

June21

“Palsu. Sebuah kondisi yang tidak asli, yang tidak genuine. Jadi, kalau teman palsu adalah teman yang tidak asli, yang tidak genuine. Yang pura-pura. Pura-pura genuine. Seperti barang bermerek palsu. Kualitas yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kualitas yang kelihatannya bagus di luar. Tetapi ketika waktu berjalan akan terlihat keaslian sesungguhnya.” -Samuel Mulia, Teman palsu (2008)

Saya adalah penggemar tulisan-tulisan Samuel Mulia di sebuah harian nasional beroplah raksasa. Dan tulisannya hampir tiga minggu lalu tentang teman palsu benar-benar menohok saya. Apakah saya adalah seorang teman palsu seperti yang ditulis oleh Samuel Mulia?

Apakah saya adalah orang yang hanya menghubungi teman-teman saya jika saya membutuhkan sesuatu? Atau apakah saya hanya menghubungi teman saya untuk sekedar tetap diingat yang artinya tetap diundang bila ada acara-acara menyenangkan dimana saya bisa menikmati hiburan dan minuman serba mahal secara gratis? Atau apakah saya seorang yang hanya senang membagi kesedihan dan tidak pernah membagi kesenangan kepada teman-teman saya?

Mmm….agak berat nih…

Kalau ada yang mau baca tulisan lengkapnya Samue Mulia untuk sekedar introspeksi, silakan klik disini.

posted under Writing | No Comments »
« Older Entries