June21

Ini adalah nama tokoh pewayangan yang sering ibu ceritakan kepada saya. Ya, ibu saya sebagai orang Jawa yang njawani memang hafal benar nama-nama tokoh pewayangan, silsilah, dan tentu saja kisah-kisah dalam dunia pewayangan itu sendiri. Seringkali ibu saya membandingkan sebuah peristiwa yang baru saja terjadi dengan peristiwa yang pernah terjadi dalam dunia pewayangan. Atau sering juga watak-watak individu ia bandingkan dengan watak-watak tokoh dalam pewayangan. Ibu percaya bahwa orang dengan bentuk tubuh seperti sengkuni biasanya juga berwatak seperti Sengkuni. Yang nggak tau tentang Sengkuni, bisa klik disini.
Tentang Kumbakarna sendiri, ibu pernah bercerita bahwa dia adalah tokoh bertubuh buto (bahasa Jawa untuk raksasa) tapi berhati ksatria. Dari sini jelas bahwa filosofi Jawa mengajak kita untuk tidak menilai orang hanya dari bentuk fisik, tapi lebih dari itu, hati adalah lebih penting. Bukankah sekarang banyak orang yang berwajah tampan rupawan tapi hatinya busuk?
Kisah Kumbakarna adalah kisah yang sangat menarik. Ia lahir dalam keluarga buto (yang dalam filosofi Jawa selalu identik dengan keburukan atau kejahatan) dan tidak lain adalah adik kandung Rahwana raja Alengka yang menculik Shinta. Ia tau bahwa apa yang diperbuat kakaknya adalah hal yang salah, dan berusaha menasehati kakaknya agar mengembalikan Shinta pada Rama. Namun kakaknya yang memang jahat tidak menggubris kata-kata Kumbakarna.
Pada saat pasukan Rama menyerang Alengka dan Alengka berada diambang kekalahan, Rahwana meminta bantuan Kumbakarna. Kumbakarna yang tahu bahwa ini adalah salah pun dengan sikap ksatria mengatakan bahwa ia akan ikut berperang melawan pasukan Rama. Tapi ini ia lakukan bukan untuk membela kesalahan yang telah diperbuat kakaknya, melainkan untuk membela Alengka, tanah tumpah darah yang telah memberinya hidup selama ini.
Kematian Kumbakarna adalah kisah yang menyentuh. Dengan seluruh daya upaya ia membela tanah tumpah darahnya. Dengan kekuatannya, ia berhasil memukul mundur pasukan Rama. Namun panah sakti Rama akhirnya mampu melumpuhkan Kumbakarna. Pertama panah itu memutuskan kedua tangan Kumbakarna. Tanpa tangan, Kumbakarna masih mampu menginjak-injak pasukan Rama. Lalu panah berikutnya memutuskan kedua kaki Kumbakarna. Tanpa kaki, Kumbakarna tetap berjuang dengan cara mengguling-gulingkan tubuhnya. Dan terakhir, dengan niat agar Kumbakarna tidak menderita terlalu lama, maka Rama memanah kepala Kumbakarna sehingga terlepas dari tubuhnya. Dalam kisahnya, Rama digambarkan kagum dan terkesan oleh sikap ksatria Kumbakarna.
Pertanyaannya adalah: Mana yang lebih benar, membela tanah air yang rasanya sudah tidak layak dibela namun bagaimanapun telah membesarkan dan memberi kehidupan pada kita atau menyeberang ke negara lain yang lebih terlihat lebih layak dibela (seperti kisah Wibisana, adik Kumbakarna yang menyeberang ke pasukan Rama?)
Wuiiihhh…rupanya kisah pewayangan tuh benar-benar banyak maknanya yaaaa….
Jadi kangen ibu dan cerita-cerita pewayangannya…
(Special thanks untuk Samuel Mulia yang ikut membuka pikiran saya tentang kisah ini)