narcistbandit

I'm from no generation, I'm part of no group, I'm totally floating and this is the whole story, and why I can survive

Ken Lee…!!!

March31

Ada orang bilang, mendingan PD daripada rendah diri. Tapi kalau over PD gimana? Selamat menikmati oleh-oleh dari Bulgarian Idol!

posted under Writing | No Comments »

Sedih

March30

Ada teman yang datang pada saya dan bertanya-tanya kenapa kesedihan harus mampir ke hari-harinya. Saya terdiam. Pertanyaan itu laksana pesawat yang mendarat darurat di otak saya, cepat, tak terduga, dan membingungkan. Waktu itu saya hanya menjawab sebisanya: “Yah…bukannya memang hidup ini adalah peralihan dari kesenangan menuju kesedihan dan beralih ke kesenangan lagi ya? Hidup ini kan katanya seperti roda yang berputar. Kadang kita berada di bawah, kadang diatas.” Teman saya manggut-manggut.

Selanjutnya dia juga bercerita bahwa ia merasa malu pada Tuhan, karena hanya ketika dalam kesedihan saja teman saya itu kembali teringat pada Tuhan. Kalau pertanyaannya tadi laksana pesawat yang mendarat darurat, kali ini pernyataannya laksana palu yang didaratkan secara darurat di kepala saya. Saya seperti dipukul karena ngrasa juga hanya ingat Tuhan disaat-saat butuh. Manusia kurang ajar seperti saya ini memang seringkali memperlakukan Tuhan layaknya sabun mandi yang dipakai untuk membersihkan kotoran-kotoran. Saat merasa gerah dan kotor, secara refleks langsung mengambil sabun untuk menyegarkan tubuh. Setelah itu, main-main lagi untuk bikin kotoran baru. Tapi ya mau bagaimana lagi? Setidaknya baru sampai disitulah pemahaman saya tentang Tuhan.

Tentang kesedihan, saya jadi berpikir: Jangan-jangan kesedihan itu mampir di hari-hari kita supaya kita tahu bagaimana rasanya bahagia.

posted under Philosophy | No Comments »

Boss

March27

Saya adalah penggemar tulisan-tulisan Samuel Mulia, seorang pengamat mode dan gaya hidup, yang kini aktif menulis kolom di harian Kompas. Gaya tulisannya asyik, mengalir, dan memberi pelajaran tanpa menggurui.

Minggu lalu ia menulis tentang kelakuan boss-boss di sekitar kita yang (katanya) pengumpulan datanya menggunakan ‘metode ngopi-ngopi di kafe dan kasak-kusuk di ruang rapat’. Dari data ini, dibagian bawah kolomnya, Samuel Mulia mengambil kesimpulan tentang jenis-jenis boss yang ada. Dan rupanya saya pernah merasakan beberapa jenis boss diantaranya.

  • Boss yang omongannya tak bisa dipegang. Kalau orang Jawa bilang: ‘esuk dele, sore tempe’ alias ‘pagi kedelai, sore tempe’. Boss yang gini-gini nih yang selalu bilang bakal naikin gaji tapi nggak pernah kelakon. Janji besok akan ngasi bonus tapi ditunggu-tunggu sampai surat pengunduran diri udah ditangannya tapi tetap aja bonusnya nggak keluar. Kalau menurut Samuel Mulia, boss yg kayak gini janjinya harus cepat dicatat, kalau tidak, gawat! Kalau dia tidak minta notulen, kirim saja melalui surat elektronik kepada dia atau sekretarisnya.
  • Boss kikir. Komputer lama nggak pernah ditambahin memori atau RAM nya. Prosesor jebot dipake terus. Udah gitu marah-marah kalau kerjaan jadi lamban. Gimana dong?! Nggak ketinggalan AC kantor yang bunyinya udah lebih kenceng daripada bunyi mesin bajaj dan hanya menyemburkan hawa panaspun nggak akan diganti sebelum kebakar. Saya ulang: sebelum kebakar! Kalau cuma mati total mah nggak ngaruh buat dia. Harus kebakar!
  • Boss yang orientasinya hanya uang dan keuntungan. Ia hanya mau untung! Semua orang disuruh kerja sekeras-kerasnya. Nggak ada hari Minggu, nggak ada hari libur, setiap hari adalah hari kerja. Dari pagi buta sampai hampir tengah malam. ‘Boss macam ini jangan dipercaya. Ia tak segan memakan Anda bila diperlukan.’ kata Samuel Mulia.

Masih ada beberapa jenis boss lain yang (syukurnya) belum pernah saya rasakan. Tiga jenis aja udah cukup ah…!!!!

posted under Writing | 2 Comments »

A Very Long Weekend

March22

Weekend kali ini bukan main panjangnya. Rabu sore adalah hari terakhir kami bekerja. Selanjutnya, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu adalah libur nan panjang.

Buat sebagian orang, liburan ini sangatlah berarti. Mereka berduyun-duyun mudik atau mengunjungi daerah-daerah wisata seperti Bali. Tapi buat saya dan pacar, long weekend seperti sekarang ini adalah waktu yang bikin giris. Macet dimana-mana, hiruk pikuk orang yang salah gaya di pantai Kuta, dan kenorakan manusia-manusia dari berbagai daerah menjadi pemandangan yang mau nggak mau harus mau dilihat. Lha wong mereka kelihatan!

Dua malam lalu, waktu kami harus bermobil ke daerah Kuta, saya hampir nangis karena perut lapar saya harus diganjal oleh rasa kesal akibat kemacetan panjang di Jl. Raya Kuta. Tidak hanya itu, jalan potong melewati Sentral Parkir Kuta pun menjadi pilihan yang berujung tragedi karena pas saya lewat jalan itu, puluhan bus wisata juga pas akan ke

posted under Writing | No Comments »
« Older Entries