narcistbandit

I'm from no generation, I'm part of no group, I'm totally floating and this is the whole story, and why I can survive

Adopsi Anjing

October24
Sejak beberapa minggu lalu, saya berencana memelihara anjing. Seperti biasa, saya lebih suka memungut anjing di jalan yang memang membutuhkan rumah dan makanan, ketimbang membeli anjing di pet shop yang jelas-jelas sudah makmur plus harganya selangit pula! Untungnya di salah satu edisi Bali Advertiser, ada iklan B.A.R.C (Bali Adoption Rehab Center), sebuah organisasi yang menampung anjing-anjing terlantar untuk kemudian dipersiapkan hingga bisa diadopsi.
Jadi lah hari Jumat sore saya bermotor ke Ubud. Perjalanan yang 45 menit cukup melelahkan. Untungnya cuaca cukup bersahabat, cerah, tapi tidak panas. Jalananpun bersahabat, karena tempat adopsi itu rupanya tidak terlalu sulit dicari.
Di B.A.R.C saya disambut oleh seorang dokter hewan dan beberapa stafnya. Saya dipersilakan melihat-lihat tempat penampungan anjing mereka. Tentunya semua anjing yang ada disana menyalak ketika saya masuk. Suasana jadi heboh. Ada beberapa anjing yang menarik perhatian saya. Salah satunya bernama Kuta. Anjing betina bebulu putih, bermata coklat, dan berhidung coklat susu. Benar-benar anjing bule. Tapi karena ukurannya yang tidak kecil, maka saya urung mengambilnya. Harus pakai mobil untuk membawa Kuta ke Denpasar.
Jadi deh saya dibawa ke kandang anjing-anjing kecil. Didalamnya saya tertarik pada beberapa anjing. Dan akhirnya pilihan jatuh pada seekor anjing kecil berkulit putih susu, berkuping tinggi, berkepala kecil, mirip anjing jenis Chihuahua. Sang dokter hewan pun mengatakan bahwa ada kemungkinan anjing pilihan saya adalah anjing hasil persilangan. Tapi apapun itu, saya tidak terlalu peduli, yang terpenting bagi saya adalah bahwa anjing ini memang dapat diadopsi.
Setelah membayar biaya administrasi (sebagai pengganti biaya vaksinasi dan tentu sedikit donasi), anjing saya disuntik untuk anti gatal dan cacing. Dokter juga menitipkan obat khusus untuk memandikannya.
Perjalanan pulang penuh dengan pencarian nama. Puluhan nama saya pikirkan. Mulai dari yang lucu sampai yang aneh. Dan akhirnya, di sebuah tikungan, saya menyepakati sebuah nama. Gladysh! Yup…Gladysh.
Mulai petang itu, Gladysh mengisi hari-hari saya. Dari anjing yang pemalu dan penakut, kini Gladysh sudah pintar dengan mendekat ketika dipanggil namanya. Juga berloncatan ketika saya datang dari kantor atau habis bepergian.

Gladysh berpose dipagi hari

 

Gladysh dengan kalung centilnya

posted under Writing | 17 Comments »

Pertemuan Terakhir

October23
Pernah nggak ketemu sama orang trus ngrasa itu akan jadi pertemuan terakhir karena orang itu akan pergi untuk selama-lamanya? Saya pernah dan benar aja itu terjadi.

Dua bulan lalu saya ber-backpacking ke Semarang untuk wisata kota tua dan kuliner (Arien tau persis alasan sebenarnya!). Dan dalam kesempatan itu, saya mampir ke rumah seorang saudara tua dari ayah, namanya eyang Tar. Sore itu jelas eyang Tar yang tinggal sendirian di gang sempit kaget atas kedatangan saya yang memang tanpa persiapan apalagi kabar berita. Beliau bahkan sempat tidak mengenali saya dan memicingkan mata berkali-kali mencoba memetakan wajah saya dalam memorinya. Dan ketika teringat, saya langsung dipeluknya. Puluhan pertanyaan tentang kabar saya, orangtua saya, alasan saya kesini, bagaimana kabar Bali dan kerjaan saya, langsung meluncur deras dari mulut beliau. Tidak lupa beliau juga menceritakan keadaan beliau dan anak-anaknya serta keluarga besar kami di Semarang.

Sore itu, obrolan kami terhenti karena saya ada acara lain. Tapi karena saya akan tinggal beberapa hari di Semarang, maka saya berjanji akan menemui eyang Tar lagi setelah semua acara saya selesai. Namun sayang, saya gagal menepati janji. Sampai ketika saya meninggalkan Semarang, saya masih memikirkan janji itu. Dan entah kenapa saya berpikiran bahwa pertemuan singkat di sore menjelang maghrib itu akan menjadi pertemuan terakhir saya dengan eyang Tar.

Pagi ini, ayah saya menelpon, membawa kabar duka bahwa eyang Tar telah tiada. Meninggalkan kami semua. Selamat jalan eyang Tar. Maafkan saya yang tidak bisa memenuhi janji bertemu, untuk yang terakhir kali.
posted under Writing | No Comments »

Lagu-lagu (dan acara) teroris

October9
Beberapa hari belakangan, saya sambil mandi (please skip the detail! -Arien) suka bahas lagu-lagu dan acara teroris sama pacar saya. Kenapa kami sebut teroris, karena menurut kami lagu dan acara itu berhasil masuk ke kepala semua orang, nempel disitu, dan jadi teror seumur hidup. So, pas ada orang rengeng-rengeng (bahasa jawa untuk orang yang bernyanyi kecil dengan kata-kata nggak jelas, hanya nada-nadanya aja yang terdengar) salah satu lagu teroris itu, pasti semua orang bisa ikutan nyanyi. Atau kalau obrolan udah mulai basi, trus ngomongin acara-acara teroris, pasti semua bisa nyambung. Bisa juga pas ketemu sama orang yang baru kita kenal, nggak tau mo ngomong apa, acara teroris bisa jadi bahan pembicaraan yang seru.

Berikut adalah sebagian kecil dari lagu-lagu teroris:
  1. Isabella – Amy Search. Beuh…bahkan ketika awalannya dialunkan saja, semua orang langsung ketawa, inget jaman-jaman itu. Isabella adalah….kisah cinta dua….duniaaaa…!!!
  2. Tenda Biru – Dessy Ratnasari. Dan satu lagi dari Dessy: Kenapa dia selalu cerai sama mantan-mantan suaminya? Karena nggak ada kecocokan. Dessy udah terlanjur cocok sama Mixagrip.
  3. Kemesraan – Iwan Fals. Yang satu ini nggak bisa diragukan lagi udah jadi lagu kebangsaan wajib ibu-ibu dharmawanita. Coba iseng-iseng dateng ke acara mereka, pasti di akhir acara ada lagu ini plus goyang statis kanan-kiri.
  4. Ini Rindu & Romantika Diamor – Farid Hardja. Gerakan tangan mirip burung plus bagian lyric yang nge-rap nggak jelas pasti nggak pernah lepas dari kepala. Kalau kamu mu mulai suka ka katakan saja ja jangan disimpan. Emang cinta ta tak pernah mati ti tiada tara ra rasa asmara….

Sebagian kecil acara teroris (mostly acara-acara TVRI jaman dulu):

  1. Panggung boneka si Unyil. Acara hasil produksi PPFN (beuh…lambangnya aja masih nempel gini di otak), dengan soundtrack yang juga nempel di kepala, udah pasti nggak pernah lepas meneror kepala kita semua.
  2. Aneka Ria Safari. S…A…F…A…R…I….SAFARI….SAFARI…! Pasti inget dong ah jingle pembukanya.
  3. Album Minggu. Sama kayak acara sebelumnya, jingle acara ini juga selalu neror: “Album Minggu…album Minggu…album Minggu…kitaaaaaaa….”
  4. Dunia Dalam Berita yang diikuti dengan Laporan Khusus. Edan!!! Harmoko & Moerdiono aja gitu tiap hari…
  5. Dari Gelanggang ke Gelanggang. Tetap…bersama komentator Anda…Bung Sambas!!!

Masih ada yang lain?

Gaji pertama & gelato

October3
Hari Senin kemarin pacar saya terima gaji pertama (saya tau banget…Arien pasti berkomentar dalam hatinya). Walaupun sempat agak-agak pusing di kantor gara-gara itung-itungan yang nggak kunjung pas, tapi pulang kantor tiba-tiba dia bilang gini:
“Babe, kita makan pake gaji pertamaku yuk!”

Saya mah hayuh-hayuh ajah kalau diajak makan. Apalagi dibayarin.

Jadi deh, abis mandi, ganti baju, trus jalan nyari makanan. Kebetulan yang kepikir malam itu adalah Warung Murah di jalan Double Six. So, ayam kare, kentang berbumbu, dan large Bintang jadi santapan malam itu. Nggak ketinggalan sambal matahnya yang top abis.

Selesai makan malam saya menyiapkan kejutan untuk dia. Saya tau banget kalau dia suka ice cream. So…tanpa bilang-bilang saya bawa dia ke Trattoria di jalan Oberoi.
“Koq jalannya kesini sih?” Tanya dia waktu motor berbelok kekiri dari Seminyak. Yup! Agak susah kayaknya bikin kejutan, secara dia udah mulai hafal jalan. Hehehe…

Tapi gimanapun…sukses juga koq kejutannya. Waktu sampai di Trattoria, saya beritahu bahwa ice cream atau yang di resto Italia ini disebut Gelato ‘is the best in town’. So…harus coba!

Dan akhirnya…malam itu…kami berdua menikmati gelato masing-masing 2 scoop. Saya pistachio & chocolate-nut, dia pistachio & lemon.

Angin semilir, cahaya lilin yang redup, musik yang loungy, suasana resto yang nggak rame, pejalan kaki yang hilir mudik diluar resto, jadi pelengkap suasana malam itu.
posted under Writing | No Comments »