Selamat Jalan Vivin…
‘Breaking News: Vivin Sakit Keras…’ begitulah subject e-mail yang Kamis pagi itu sungguh mengejutkan saya. Isinya sungguh mengiris hati, seorang teman kuliah saya sedang melawan penyakit yang tidak main-main. Dan saat e-mail itu ditulis, keadaannya sungguh tidak baik. Ia sudah masuk ICU dan walaupun sadar tapi tidak mengenali orang-orang disekitarnya. Beberapa teman yang sempat menjenguk bertestimoni bahwa keadaan Vivin memang sangat buruk. Akhirnya di ujung e-mail itu ada ajakan untuk sama-sama menjenguk Vivin pada Jumat 6 April 2007.
Saya terdiam. Sedih. Dan mencoba kontak dengan teman-teman lain di Jakarta yang sudah dan akan menjenguk Vivin. Saya mohon agar salam saya pada Vivin dan keluarganya bisa disampaikan karena rasanya saya tidak akan bisa pergi ke Jakarta untuk ikut menjenguk.
‘Up Date Vivin’ lagi sebuah e-mail saya terima Senin itu. Isinya kabar yang cukup menggembirakan. Vivin berangsur membaik. Tekanan darahnya stabil, bisa berkomunikasi walau terbata-bata, dan mulai mengenali orang-orang disekitarnya. Yah…harapan mulai terbuka lagi. Sayapun ikut berdoa untuk kebaikan Vivin.
‘Innalillah. Tlh brpulang saudari qt, Vivin Alviani, Kamis 12 April, pkl 16.00 di RSAD. Jnazah dsemayamkan d rmhnya, pondok cabe. Smg Allah memberi t4 kmbali trbaik. Amin.’ SMS dari Lea yang saya terima sekitar pukul 18.00 WITA ini benar-benar membuat saya bagai tersengat listrik. Saya langsung lemas terduduk. Segala kenangan indah masa-masa kuliah bagai terputar di kepala saya. Masih terngiang kata-kata Anggie yang mengingatkan bahwa Vivin adalah orang yang selalu sibuk masak di dapur selama acara sarasehan kami.
Dan itulah kenyataannya, Vivin telah tiada, mendahului saya dan teman-teman seangkatannya. Selamat jalan Vivin, ketiadaan dirimu secara fisik tidak akan meniadakan segala kenangan manis yang telah terekam dalam memori kami semua. Selamat jalan teman…

