narcistbandit

I'm from no generation, I'm part of no group, I'm totally floating and this is the whole story, and why I can survive

Travelers Tale, Belok Kanan: Barcelona

March12

Hari Jumat, hari terakhir untuk bekerja (setidaknya untuk minggu ini). Mmm…sejak siang saya sudah berencana untuk mencari buku di Gramedia Discovery. Ya, saya memang harus kembali ke diri saya sendiri, setelah perubahan aneh yang tiba-tiba saja terjadi dalam diri saya. Sebenarnya saya adalah penikmat kesendirian. Saya senang melakukan banyak hal sendirian, dan membaca buku adalah salah satu diantaranya. Tapi buku apa yg harus saya beli? Metropop, sudah jelas, karena saya memang sedang butuh bacaan yang ringan dan segar. Lalu muncullah ide untuk membeli buku ini: TRAVELERS’ TALE: Belok Kanan: Barcelona!

Nggak tau kenapa tiba-tiba saja buku itu muncul di kepala saya. Mungkin karena beberapa hari lalu saya membaca blog seorang teman lama yang katanya sangat terinspirasi sama buku itu hingga dia merasa seperti Retno (salah satu tokoh dalam buku itu) yang sedang duduk-duduk di sebuah coffee shop bernama Baresso di kawasan Vimmelskaftet, Kopenhagen, padahal dia sendiri hanya duduk di sebuah cafe di Jakarta nan macet dan panas. Atau karena ketika saya sedang ngobrol dengan Ella, tiba-tiba dia memperbaiki sebutan judul buku (tadinya saya sebut sebagai Travelers’ Note) dan meminta saya untuk juga mencarikan buku itu untuk dia?

Ya, singkat ceritanya, setelah bergumul dengan mas-mas Gramedia untuk mencarikan buku itu di komputer stocknya, saya beli juga buku itu. Rp. 40.000,- Lumayan lah, demi menghibur diri. Dan memang sore itu saya butuh penghiburan. Jadilah setelah membeli buku itu, saya melangkahkan kaki ke bagian belakang Discovery Mall, pantai!!! Ya…membaca buku di pantai yang sore itu cerah dan dihiasi sunset yang indah. Heaven!

Tentang buku itu sendiri, setelah saya baca dan selesaikan, sebenarnya tidak terlalu istimewa. Pengarangnya ada empat orang: Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, dan Ninit Yunita. Beberapa dari mereka sudah menerbitkan buku masing-masing, saya tahu karena sempat melihatnya di rak buku Gramedia. Ceritanya dalam buku ini ada empat orang yang bersahabat sejak kecil. Masing-masing memendam rasa suka satu sama lain namun yang membuat complicated adalah bahwa si A suka pada B, tapi B suka pada C dan tidak pernah memandang A untuk disukai. Sedangkan C lebih suka pada D yang selalu menolak cintanya. Agak India hei nggak sih? Saya rasa para penulis pada terinspirasi sama film Kuch-Kuch Hota Hai deh!
Selain itu, penggambaran tentang travelling yang saya kira adalah kekuatan dari buku ini malah rasanya agak kurang. Mungkin karena jumlah halaman yang terlalu sedikit untuk empat orang pengarang. (Terus terang, ketebalan dan ukuran buku ini sungguh diluar dugaan saya. Mini dan tipis!).
Tapi emang sih, buku ini bisa membangkitkan semangat untuk ber back-packing kemana-mana. Ini mungkin karena keempat pengarangnya adalah mereka yang gemar ber-back-packing keliling dunia.

Secara keseluruhan, buku ini adalah buku yang layak dipinjem dan tidak terlalu layak untuk dibeli.

posted under Writing | 4 Comments »

Cinta Silver untuk ke 1.746.873 kali

March9
Kalau ada film yang membuat saya berbulat tekad untuk pindah ke Bali, ya film Cinta Silver ini. Dan kemarin saya merayakan angka 1.746.873 kali saya menontonnya.
Apa sih yang istimewa dari film produksi Rexinema tahun 2005 ini? Jalan ceritanya, nggak banget (emang ada jalan ceritanya?)! Pemain-pemainnya? Mmm…nggak ada yang istimewa. Malah saya nggak suka banget sama Restu (dia jadi model aja saya bingung, apalagi tiba-tiba jadi aktor tanpa ekspresi?!) yang berperan sebagai Levi. Emang sih ada Christian Sugiono (aw! Nama depanmu OK, tapi nama belakangmu itu lho…pls deh!), Melani Putria (ggrrrrhhh!!! How dare you take my Angga away!!!), dan Rima Melati (lho?! Aktris gaek koq ngambil peran yang nggak ada kerjaan lain selain mikirn jodoh untuk Levi!), tapi kombinasi antara para aktor-aktris dan jalan cerita yang nggak banget, bikin film ini makin ancur!

So, apa yang bikin film ini istimewa dan membuat hit counter menonton saya mencapai angka jutaan? Yup! Pemandangannya! The beauty shots in this movie were extremely beautiful! Especially in the outdoor scenes and photosession with Wisnu (Christian Sugiono), the photographer. Memang Rexinema nggak pernah mengecewakan mata penontonnya. Mereka selalu tau bagaimana memanjakan mata dengan pemandangan dan angle-angle pengambilan gambar yang top bgt! Saya selalu mengatakan: “Bahkan ketika mereka bikin film horror aja, semuanya jadi indah banget! Apalagi kalau mereka bikin film romantis!”
Wah, pokoknya Bali dan segala keindahannya jadi makin indah ditangan Lance sang sutradara.

So, tadi malam saya merayakan hit counter menonton film ini dengan secangkir kopi, selembar bed cover, dan selembar selimut. Tidak lupa Lucky Strike Menthol mengepul hangat di mulut. Dan tanpa terasa, saya sudah 1 tahun 1 bulan dan 1 minggu pindah ke pulau penuh keindahan ini! Bravo Cinta Silver!
posted under Writing | No Comments »