narcistbandit

I'm from no generation, I'm part of no group, I'm totally floating and this is the whole story, and why I can survive

Fashion is My Passion

January25
Mungkin nggak banyak orang yang tahu kalau saya punya cita-cita terpendam untuk menjadi desainer. Tapi itu lah kenyataannya. Waktu akan lulus SMU, saya minta untuk disekolahkan di ESMOD, sebuah sekolah mode dari Prancis yang waktu itu masih baru di Jakarta dan tentu belum banyak orang yang mengenal.
“ESMOD? Apanya es cendol, es kelapa, atau es campur?” Tanya seorang guru dengan muka yang sungguh polos saat saya menjawab pertanyaannya tentang akan kemana saya melanjutkan studi setelah lulus SMU.
Ya, waktu itu ESMOD memang belum setenar sekarang. Tapi tetap saja saya yakin bahwa saya akan mendapat apa yang saya cita-citakan disana. Namun apa mau dikata? Saya belum bisa membiayai hidup saya sendiri waktu itu. Sehingga saya harus mengubur jauh cita-cita saya untuk jadi desainer dan menjalani studi di jalur yang ‘umum’ diambil orang di negeri ini.
Saya melanjutkan studi di jurusan psikologi dan lalu mengambil FISIP sebagai pelabuhan terakhir studi saya. Dan untuk semua itu, saya lulus dengan nilai baik.

Di paragraf sebelumnya, saya sempat menggunakan kalimat: ‘mengubur jauh cita-cita saya’, tapi rasanya itu bukan kalimat yang tepat. Karena selama masa kuliah, lulus, dan bekerja, saya selalu mencoba bersentuhan dengan dunia desain. Entah dengan cara yang paling ringan yaitu dengan membeli majalah-majalah seperti a+, Dewi, Vogue, GQ, dan Vanity Fair, sampai cara yang lumayan berat yaitu menulis novel 400 halaman tentang mode.
Tidak lupa juga secara autodidak saya mencoba belajar dari buku-buku desain dan meminta tolong teman untuk menggarap ide-ide saya.
“Nang, ide-ide loe tuh brilliant dan sering keluar dari kebiasaan!”
“Ide loe unik banget!”
“Loe gila ya?”
“OMG! That’s so gay!”
Itu kata-kata yang saya dengar ketika mencoba menumpahkan ide di meja gambar.
“Di kepala gue tuh ide-ide beterbangan. Cuma sayangnya gue nggak bisa nggambar. Makanya gue minta tolong sama elo!” Itu jawaban saya kalau teman mulai mengeluh atas permintaan saya akan hal-hal kecil yang selalu saya ributkan.
“Dan gue ini perfeksionis! So everything must be perfect or I’ll can’t sleep tonight!”

Sekarang, saya sudah mulai bisa mencari uang sendiri. Dan akhir-akhir ini, saya sungguh mengumbar nafsu untuk membeli kain dan mengubahnya menjadi pakaian. Saya mencoret-moret notebook dengan pensil dan Staedler marsmatic 700 0,3 peninggalan jaman kuliah. Jalan Sulawesi adalah nama jalan yang selalu muncul di agenda akhir pekan saya. Dan penjahit kecil di ujung jalan Marlboro adalah tempat saya berdiskusi.
Saya mulai mengenal bagaimana melihat serat kain, beberapa istilah jahit, dan berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah ada di kepala.

Yang membuat saya gembira adalah, selain beberapa teman memuji hasil kerja yang saat ini masih saya pakai sendiri, dua orang klien besar di tempat saya bekerja juga gembira atas hasil desain dan kerja saya. Malah hari ini dia bercerita:
“Dulu, Luisa bekerja sebagai akuntan,” kata klien kantor saya itu dalam bahasa Inggris berlogat Australia nan kental. “Tapi diluar dugaan, sekarang malah dia terkenal sebagai desainer.” Lanjutnya lagi.

Sebuah cerita yang memberi motivasi untuk mencapai cita-cita terpendam saya. Karena saya tidak pernah tahu akan hari esok dan kemana jalan hidup akan membawa.
posted under Writing | No Comments »

Queer Manifesto 2007

January5

Fear use to keep me from expressing who I am. I grew out of that as a teenager. And here is what I discovered. I am a Queer….. one of many. Please enter our world…..

Our emotional state is that of brotherhood.
Our addiction of choice is entertainment.
Our religion of choice is friendship.
Our currency of choice is knowledge.
Our politics of choice is for equal human rights.
Our society of choice is utopian though we know it may never be.

We continue to make strides, despite those of you who want to oppress us.
We will continue to strive, despite those of you who hate us.
We will continue to fight for a better world not just for ourselves, but for all the future generations of the world.
We continue to pack our bodies into bar’s, party’s, club’s, event & chat rooms, to seek out others that are just like us.
To dance fiercely with our brothers and sisters in celebrations of our life, of our culture, and for the values we believe in.
Peace, Love, Freedom, Tolerance, Unity, Harmony, Expression, Responsibility and Respect.

We seek to relinquish our inhibitions, and free ourselves from the restraints you try to put on us.
You may hate us.
You may dismiss us.
You may misunderstand us.
But we can only hope that you do not care to judge us, because we would never judge you.
You may say what you will, but you can’t stop our existents.

We are not moral criminals.
We are not mentally ill.
We are not drug addicts.
We are not devils.
We are one massive, online, global, tribal village that transcends physical geography & blood lines.
We exist without skin color, without nationality, and without religious bias.
Yet you call us moral criminals. Yes, I am a criminal.
My crime is that of love. Whom I choose to love should be no concern of yours.

Our enemy is closed mindedness.
Our weapon of choice is Information.
Our crime of choice is to challenge moronic laws.
Our Passion of choice is acceptance.

We came to accept that we are all equal, and to re-write the programming that you have tried to indoctrinate us with since the moment we were born.
Programming that tells us to hate and judge people who are different from us.
Programming that tells us to close our minds, instead of open them.
We are gay not because we made this choice in life but being gay is a result of life!
You need to realize that the world is not so black and white.
That there is a whole multitude of colors waiting for you, if you can just open your eyes.

Thank to my friend, Brian “Shades” Posluszny!