narcistbandit

I'm from no generation, I'm part of no group, I'm totally floating and this is the whole story, and why I can survive

What We Celebrates on Chanukkah

December6
Being Jewish in a country which Judaism is not acknowleged give me a very unique experiences. First I have to deal with my boss that keep telling me to work on Saturday which is the day that I’m restricted to work. Then my friends always asking me about Jewish rituals and holiday, including Chanukkah which is a very popular Jewish celebration.
So, I wrote this for all my friends. Hope you can understand about Chanukkah even in a very easy way.
Mazel Tov!
Light on the Darkest Night

In Jewish calendar, Chanukkah’s eight-day celebration begins the evening of the 25th of Kislev (which falls sometime during December). The months of the Jewish calendar are based on the cycles of the moon, so the 25th is always four days before the new moon, the darkest night of the month.

More importantly, because Kislev is always close to the winter soltice, Chanukkah takes you into, through, and out of the darkest night of the year. (The soltice is technically the longest night of the year, but it may fall on the full moon, which would make it far from dark.) On the darkest night of the year, wouldn’t you want to light a few candles?

But please remember: Please do everyone a favor and don’t call Chanukkah ‘the Jewish Christmas.” Jews have nothing againts Christmas, but Chanukkah is completely different.

The Good Fight: What Chanukkah Celebrates

Chanukkah celebrates two things: a miracle in which one day’s worth of oil burned for eight days, and the victory of Jewish freedom fighters over the Syrian-Greek forces that tried to wipe out Judaism in the second century B.C.E. In this way, Chanukkah marks the very first battle fought neither for territory, nor for conquest of another people, but in order to achieve religious freedom.

The consequence of that ancient military victory was the right of Jews to worship as community. Because of the many times that this right has been threatened over the centuries since the Maccabees, their victory and the rededication to Jewish worship that followed have become paradigms for Jewish renewal across time. In fact, the word Chanukkah means “dedication’.

In larger sense, then, Chanukkah celebrates a reaffirmation of freedom and a recommitment to spiritual quest.

The Ritual

There’s only one essential ritual to perform at Chanukkah: the lighting of the candles, which are held in chanukkiah. But families have developed many other traditions that are also meaningful like making yummy fried food called Latkes, spinning the dreidel (a four-sided spinning top with Hebrew letters nun, gimel, hay, and shin printed on each side), and also share gifts.

Lelaki Pelangi

December4

Lonceng kecil di atas pintu kaca itu berbunyi. Tanda ada seorang lagi masuk. Langkah pertamanya memasuki café kecil itu kontan diikuti mata-mata garang yang melecehkan. Dia pun melenggang. Tampak seperti sudah biasa diperlakukan bak manusia aneh yang berpenyakit menular. Kakinya terus melangkah menuju meja bermesin penghitung. Disanalah dia mengeluarkan permintaan pertamanya.

“Saya minta secangkir pelangi!” Ujarnya kepada pelayan bercelemek hijau tua.
“Ehm…maaf, tidak boleh ada pelangi disini.” Kata pelayan muda itu sambil menundukkan kepala.
“Lho? Kenapa?”
“Itu peraturan disini.”
“Tapi saya akan bayar apa yang saya pesan.”
“Iya. Tapi tetap tidak boleh.”
“Lho? Kenapa?”
“Ya pokoknya tidak boleh.”

Pengunjung café lain tampak mendengarkan pembicaraan mereka. Semua mata menunggu setiap jawab yang muncul dari lelaki pemesan pelangi itu. Mereka tampak tak sabar sampai tiba waktu lelaki itu diusir dari café ini.

“Begini saja, Anda boleh pesan apapun, boleh dua atau tiga atau empat. Asal jangan pelangi.” Ujar pelayan menawarkan solusi.
Orang-orang tampak mengangguk setuju. Menurut mereka itu adalah solusi terbaik.
“Kalau memang tidak mau, usir saja!” Celetuk salah satu pengunjung café yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh semua disitu.
“Iya!” Sahut seorang yang lain.
Semua kini tampak mengangguk mengiyakan.
“Tapi saya tidak mau dua, tiga, atau empat. Saya setia. Saya tidak mau menyakiti orang lain. Saya tidak bisa membayangkan membagi diri untuk dua, tiga atau empat. Itu hanya pemuas nafsu saja! Saya hanya ingin pelangi.”
“Dasar penikmat pelangi tak tau diri! Disini tidak ada tempat untuk pelangi, tau! Pergi saja sana! Jauh-jauh dari kami. Warna-warna mu sungguh tak enak dipandang. Norak! Kampungan!”
“Tapi kan pelangi itu adalah hukum alam yang muncul bersama cerahnya matahari setelah hujan. Dia ada karena alam menghendakinya. Kenapa kalian menolaknya?” Jawab lelaki itu mencoba menjelaskan.
“Heh! Tak usah membela diri mengatas namakan alam. Kami yang boleh menafsir alam ini. Kami yang boleh menterjemah hukum-hukum Tuhan. Bagi kami, tidak ada tempat bagi kamu dan orang-orang seperti kamu selain di neraka! Karena orang-orang minim moral seperti kamu adalah budak-budak nafsu!” Kali ini seorang lelaki berpakaian putih dengan janggut panjang berteriak berang.
“Lalu, bagaimana dengan dua, tiga, atau empat? Bukankah itu nafsu juga?” Tanya lelaki itu mencari tahu.
“Dua, tiga atau empat justru membawa kami ke surga! Surga yang dijanjikan oleh hukum Tuhan.” Jawab si empunya janggut.
“Kenapa?”
“Karena itu hukum Tuhan. Dan begitulah kami menafsirnya. Dan karena tidak ada orang lain yang boleh ikut menafsir, maka kami lah yang benar.”
“Jadi, kalianlah kebenaran itu?”
“Bisa dibilang begitu. Kamilah kebenaran. Kami selalu berbicara atas nama Tuhan! Sekarang, ubah kegemaranmu akan pelangi atau kami tak segan membinasakanmu dari muka bumi ini.”
“Kalian juga membunuh?”
“Tentu! Atas nama Tuhan!”
“Kenapa?”
“Karena dengan membunuh, kami dijanjikan surga!”
“Ngeri sekali!” Lelaki pelangi itu bergidik.
“Itu keinginan Tuhan!”

Diam. Hening. Percakapan itu tiba-tiba behenti. Orang makin garang. Pelayan mulai menyingkir dari meja bermesin penghitung.
“Cukup omong kosongnya! Sekarang hanya ada dua pilihan. Bertobat atau mati.” Ucap si janggut.
“Pak, bukan aku tidak hormat. Tapi aku tak mungkin bertobat pada Tuhan yang menyuruh membunuh dan lalu memberi hadiah surga.”
“Kalau begitu, ini saatmu untuk mati.”
Semua mengangguk setuju. Dan begitulah akhirnya. Lelaki penikmat pelangi itu mati dan keesokan harinya mayatnya digantung ditengah kota. Didadanya bertuliskan: “Pelangi tidak boleh hidup disini!”

Kuta, 18 November 2006 (11.30AM)