narcistbandit

I'm from no generation, I'm part of no group, I'm totally floating and this is the whole story, and why I can survive
Browsing Jakarta

dan iapun menarilah

December2

Yuska
Foto oleh:
Troy Norman

Sore itu Jakarta diguyur hujan. Tidak besar memang, tapi cukup membuat udara menjadi sejuk. Apalagi ditambah rona kelap-kelip lampu mobil yang mulai dinyalakan dan orang-orang yang berlarian kecil menghindari titik-titik air yang turun dari langit, semua bak simponi yang berkolaborasi dan bermain indah untuk membentuk suasana khusus malam itu. Ya, malam itu, 21 November 2009 adalah malam diadakannya acara “The Dance Within – The first annual recital of DanceWave Center Jakarta.”

Begitu sampai di lantai satu gedung auditorium RRI, kami disambut oleh petugas tiket yang sibuk memberikan stampel pada setiap penonton yang telah menukarkan kwitansi dengan tanda masuk. Beruntung sejak sore tadi saya telah memilih tempat duduk sehingga tidak perlu antri lagi untuk itu. Acara diadakan di lantai 2. Disana penonton yang sudah menunggu didudukkan pada kursi-kursi menurut nomor yang telah mereka pilih.

Terlambat 30 menit, acarapun dimulai. Lampu dipadamkan dan sebuah slide yang menggambarkan jalan cerita acara inipun diputarlah. Suasana gelap mencekam ini kemudian mulai didobrak oleh pertunjukan tari diatas panggung.  Dimulai dengan tarian hiphop disusul dengan belly dance dan kemudian berganti-ganti mata ini disuguhi gerakan-gerakan artistik yang membentuk rangkaian makna atas sebuah cerita.

Yang menjadi highlight malam itu (saya katakan highlight karena memang sejak awal pemunculannya penonton sudah bertepuktangan riuh) adalah penampilan pacar saya . Ia dengan gerakan belly dancenya begitu memukau penonton. Apalagi ketika partner menarinya, Lilith, yang adalah sebuah pedang, bersatu membentuk gerakan-gerakan yang membuat saya dan (saya yakin) penonton lain menahan nafas karena takut terjadi apa-apa. Dan ketika pertunjukan solonya selesai, seorang teman disebelah saya berkata: “Pasti elo bangga ya!”
Ya! Saya bangga!

Pertunjukanpun berakhir sekitar 30 menit kemudian. Penonton tampak puas dan bertepuk riuh ketika seluruh penari berjajar diatas panggung. Wajah berseri-seri tampak jelas pada para penari. Ya, mereka telah bersusah payah mempersiapkan acara ini. Walaupun terdapat sedikit gangguan pada tata lampu dan suara, tapi secara umum acara mereka bisa dikatakan sukses.

Sayapun berlari kebelakang panggung setelah acara selesai. Tiga buah ciuman mendarat hangat di bibir pacar. Ciuman bangga dan selamat atas acara malam itu.

17 tahun

October16

Waktu di Jakarta kemarin, saya sempat bertemu dan makan malam bareng sama seorang sahabat. Entah mengapa, beberapa bulan belakangan ini saya merasa sering bertemu dia. Saat saya ke Jakarta sebelumnya, saat dia ada kerjaan di Bali, dan saat saya ke Jakarta lagi kali ini. Obrolannya nggak pernah habis. Apalagi kalau menyangkut kehidupan-kehidupan samaran kami. Hanya venue-nya saja yang berubah-ubah. Kadang di mall yang penuh sesak, kadang di beranda mini market sambil menikmati sunset, atau kadang di food court mahal tapi makanannya biasa aja.

Yang jadi highlight pertemuan terakhir kemarin adalah kami tersadar pertemanan kami sudah berusia lebih dari 17 tahun. Lebih dari setengah umur kami. Artinya, setengah hidup saya dan dia didunia ini dihabiskan bersama. Mmm…geleng-geleng.

antara wine, chinese food, dan gelas kertas

October15

Dengan niat membalas perjamuan malam takbiran yang tertunda gara-gara delay pesawat yang nggak kira-kira, akhirnya saya dan dua teman penggila wine bertekad keras mencari sebuah tempat fine dining yang lumayan dengan pemandangan spektakuler. Pilihan jatuh pada sebuah tempat yang kami bertiga belum pernah datangi. Tapi dari namanya sih menjanjikan.

Pada hari dan jam yang telah ditentukan, berkumpullah kami di lobby tempat resto itu berada. “Restonya ada di rooftop. Jadi harus naik lift khusus keatas sana!” Kata teman saya. OK deh, sekarang kita cari liftnya. Setelah dapat dan terangkat naik ke lantai teratas kami kaget! Bukan restoran fine dining yang kami dapati, melainkan sebuah food court dengan kursi-kursi aneh dan penuh sesak. Tidak hanya itu, lebaran yang baru berlalu dua hari juga membuat tidak semua gerai buka, sehingga makananpun terbatas. Huh!

Tapi karena tekad sudah terlanjur bulat, jadilah kami berjibaku mencari tempat duduk kosong dan dapat! Letaknyapun pas di pinggir, hingga pemandangan ke cakrawala bisa didapat (walaupun pemandangannya nggak bagus-bagus amat rupanya). Makanan yang ada adalah chinese food cepat saji. Jadi deh, nasi goreng, kung pao chicken, dan lain-lain bermunculan di meja kami.

Tiba saatnya membuka wine. Karena kami yakin foodcourt ini nggak punya pembuka wine, maka keluarlah pembuka wine dari tas besar teman saya. Nggak hanya itu, plan C yaitu minum wine dengan gelas sendiripun dieksekusi. Gelas-gelas kertas keluar dengan sukses dari tas besar itu juga. Wuaaahh…

So, malam itu, bagai pemabuk-pemabuk tua, kami bertiga duduk di pinggir foodcourt Sky Dining, makan chinese food cepat saji, sambil minum wine dari gelas-gelas kertas bertuliskan Coffee Latte.

Earth

May14

Atas kebaikan seorang teman (sebenarnya sih ini todongan traktiran ulangtahun), saya dan pacar dibayari nonton film berjudul Earth. Film berposterkan seekor beruang kutub sedang terjun ke air ini adalah sebuah film dokumenter yang dibuat selama lebih dari 4000 hari dan menelan biaya sebesar lebih dari USD 40 juta!

Film bermula dengan pemandangan hamparan es di kutub utara. Disanalah hidup beruang kutub yang setelah melewati musim dingin dan tidur panjang, mulai tampak hidup kembali dan kali ini bersama beberapa anaknya memulai kehidupan dengan mencari makanan. Tubuh sang induk jelas menyusut puluhan kilogram karena selama musim dingin yang gelap, mereka tidak bisa mendapatkan makanan. Kemudian film berlanjut ke hamparan hutan salju Taiga yang sepi karena hanya Lynx yang mampu hidup dan menyusuri hutan itu. Lalu menyelam ke laut dalam dimana ada paus bungkuk yang bermigrasi untuk mencari udang Krill di Kutub Selatan. Tak ketinggalan sekelompok gajah yang juga bermigrasi digambarkan saling menjaga kelompoknya dari serangan hewan buas. Burung bangau Demoiselle yang terbang beriringan dengan susah payah menembus badai di ketinggian puncak Himalaya tak luput dari bidikan kamera cerdas para sineas ini. Masih banyak lagi perjuangan dalam migrasi hewan-hewan yang digambarkan dengan apik dalam film berdurasi 96 menit ini.

Yang menarik adalah bahwa tergambar dengan jelas betapa migrasi alami hewan-hewan ini menjadi sangat sulit dan terganggu akibat kerusakan alam. Beruang Kutub yang harusnya bisa berjalan di hamparan es, kini harus berenang ber mil-mil jauhnya akibat es yang ada di kutub mulai mencair. Dengan mencairnya es maka beruang kutub tidak lagi bisa berpijak dan menangkap makanan, lalu mati mengenaskan karena kelaparan dan kelelahan. Paus bungkuk yang hidupnya tergantung pada udang Krill juga mengalami kesulitan karena keberadaan udang Krill sangat bergantung pada adanya es di kutub. Dengan menghilangnya es, maka udang Krill pun makin sulit didapati. Kelompok gajah yang bermigrasi harus terkurung dalam badai pasir akibat tandusnya tanah. Ini mengakibatkan anak gajah yang baru pertama kali mengikuti migrasi harus terlunta-lunta karena tertinggal dari kelompoknya.

“Second wake up call to save our planet”, itu kata seorang pembaca di sini. Dan memang benar. Setelah film ‘An inconvinient truth’ nya Al Gore, film ini adalah film kedua yang membuat saya makin sadar, betapa tindakan kecil dari setiap individu untuk menyelamatkan lingkungan, akan membuat bumi lestari. Sebaliknya, tindakan kecil dari setiap individu untuk merusak lingkungan, akan membuat kita semua mati.

Buat saya, film ini benar-benar film WAJIB TONTON!!!! Harus nonton!!!!

posted under Jakarta | No Comments »
« Older Entries