January26
Pagi ini saya membaca tulisan seorang teman tentang ponselnya dan kemudian menatap nanar ponsel saya sambil bertanya dalam hati: “sudah seberapa efektifkah aku memanfaatkanmu?”
Ada begitu banyak fitur dalam ponsel (atau yang disebut banyak orang sebagai ’smart phone’) saya: memo pad, calendar, camera, media (untuk memainkan file-file musik, foto, maupun video), video camera, voice dialing, tasks, calculator, voice notes recorder, maps (GPS), push to talk, namun berapa banyak yang saya pergunakan sehari-hari?
Harusnya dengan berbagai fitur itu, saya menjadi orang yang lebih efektif dan efisien. Tidak pernah lupa akan janji karena selalu ada pengingatnya. Tidak pernah ketinggalan daftar belanjaan karena selalu saya bawa ke mana-mana. Tidak pernah kelewatan momen-momen indah karena saya selalu bisa mengabadikannya dengan kamera maupun video. Namun mengapa pada prakteknya tidak demikian?
Mungkin saya memang belum efektif menggunakan fitur-fitur yang ada. Hanya jago beli (karena waktu beli selalu sibuk mencari ponsel dengan fitur terlengkap) tapi gagap dalam penggunaannya. Butuhnya cuma sms dan telpon, tapi belinya yang berfasilitas segudang dengan harga selangit.
Ada baiknya, daripada saya sesali (karena toh ponsel canggih ini sudah terbeli), mulai sekarang saya lebih banyak menggunakan fitur-fitur dalam ponsel saya. Semoga mulai hari ini ponsel saya tidak lagi menjadi pengangguran terselubung. Punya kemampuan besar tapi hanya seiprit yang termanfaatkan.
November18
Beberapa hari belakangan ada kehebohan pada sekelompok orang menyangkut pemutaran sebuah film fiksi. Film fiksi Hollywood tepatnya. Terdengar aneh ya? Tapi nyata lho!
Sekelompok orang ini kemudian mengajak orang banyak untuk tidak menyaksikan film fiksi itu. Bahkan mengusulkan agar film fiksi itu dilarang untuk diputar di negara ini alias melanggar hak orang-orang yang bukan kelompoknya untuk menyaksikan film itu. Terdengar aneh ya? Tapi nyata lho!
Saya heran, apa sih kerjaan sekelompok orang itu? Jelas-jelas film ini adalah film fiksi alias khayalan belaka, lha koq dianggap serius seolah-olah film ini nyata.
Sekarang pertanyaannya, siapa coba yang termakan oleh film fiksi itu? Sekelompok orang itu (yang menganggap sangat serius film itu) atau masyarakat banyak yang hanya sekedar menganggap film itu sebagai hiburan belaka?
September14

BREAKING NEWS: Ditengah usaha mengingat-ingat rangkaian perjalanan enam hari dengan otak yang mulai karatan dimakan usia ini, saya menemukan sebuah buku bercover unik karya Dee alias Dewi Lestari. Judulnya “Perahu Kertas”. Dan karena itulah saya harus memotong jurnal perjalanan enam hari kemarin untuk menyisipkan sebuah review.
Buku berjudul Perahu Kertas bercerita tentang dua tokoh sentral bernama Kugy dan Keenan. Dari namanya saja sudah unik dan memang digambarkan bahwa karakter masing-masing tokoh itu unik, aneh, dan luar biasa. Kugy dengan kegemarannya berkhayal lengkap dengan kecuekan dan keberantakan penampilannya dan Keenan dengan bakat melukis serta ketampanan dan kekeraskepalaannya.
Kedua karakter ini kemudian dipertemukan dalam aneka kebetulan dan kemudian ceritapun berlanjut dengan bagaimana mereka saling mengagumi dan akhirnya jatuh cinta satu sama lain. Kisah cinta inilah yang kemudian diaduk-aduk dibumbui dan akhirnya jadi panjang sebuku (440 halaman).
Bagi saya, seperti yang dikatakan oleh penulisnya sendiri, buku ini membuat efek kaget karena tidak menyangka akan berisi kisah percintaan a la ABG. Dari halaman ke halaman saya berharap akan mendapatkan cerita yang lebih dewasa, tapi rupanya saya harus kecewa karena hingga diakhir buku, saya tidak menemukannya. Memang di beberapa bagian ada nilai-nilai dewasa, tapi tetap saja secara keseluruhan buku ini cenderung ke-ABG-ABG-an.
Yang menarik dari buku ini adalah formatnya yang seperti cerita bersambung (cerbung). Karakter tokoh-tokoh dalam novel ini dibangun secara perlahan dan detail, begitu juga dengan jalan ceritanya. Ini membuat pembaca menjadi penasaran dan ingin cepat-cepat membuka dan membaca halaman demi halaman. Namun sayang, di beberapa bagian, format ini terasa amat dipaksakan hingga terasa begitu membuang-buang waktu. Ceritanya yang mudah ketebakpun ikut memperparah rasa itu.
Namun walau bagaimana, buku ini berhasil membuat saya meneteskan airmata karena merasa seperti berada dalam beberapa peristiwa yang diceritakan didalamnya. Beberapa karakter tokoh dan bagaimana mereka menjalani konflik-konflik yang terciptapun ikut membawa emosi saya naik-turun. Ini bukti bahwa Dee sesekali berhasil mencemplungkan saya kedalam larutan emosi tulisannya.
Jadi, secara keseluruhan buku ini saya nilai sebagai LAYAK PINJAM.
June8

Tadi saya nonton HOME. Sebuah film dokumenter yang sepi peminat. Begitu banyak orang yang saya ajak tapi menolak mentah-mentah. Dan akhirnya, setelah beberapa hari berusaha, Arien lah yang menjadi tumbal. Demi mengisi waktunya yang begitu luang, dia rela menemani saya menonton film ini.
Hasilnya: kami berdua takjub dengan semua gambar yang disajikan dalam film berdurasi 90 menit itu. Begitu indah, begitu berhasil memotret bagian-bagian bumi yang tidak pernah kami sangka ada, begitu nyata, dan begitu membangkitkan semangat untuk lebih peduli pada bumi, satu-satunya rumah tempat kita hidup bersama. Karena bumi tidak terbagi. Atmosfer kita hanya satu. Apa yang kita lakukan di satu bagian bumi, akan berpengaruh pada bagian bumi yang lain.
Jadi, setelah An Inconvenient Truth dan Earth, inilah film yang merupakan panggilan berikutnya untuk peduli.
(Silakan cek website ini untuk gambar-gambar menakjubkan dan keterangan lebih lanjut tentang film ini)