narcistbandit

I'm from no generation, I'm part of no group, I'm totally floating and this is the whole story, and why I can survive
Browsing Food, Cafe, and Resto

Oven

August7

Setelah memendam keinginan untuk punya oven selama empat tahun lebih akhirnya kemarin saya memutuskan untuk membelinya. Keputusan saya ambil setelah berpikir bahwa mungkin memang ini adalah saat yang tepat. Kebetulan sedang ada rejeki dan kebetulan juga pacar akan segera datang menyambangi. Jadi, kurang apa lagi?!

Setelah berheboh-heboh menggotong oven dari sebuah hipermarket ke rumah, mencari tempat yang tepat untuk menaruhnya, dan mencuci segala peralatan di dalamnya, akhirnya tiba saat untuk mencoba memanggang sesuatu. Pizza adalah pilihan saya siang itu. Roti dasarnya (dough) sudah saya beli di hipermarket tempat membeli oven. Toppingnyapun secara tidak sengaja sudah tersedia di lemari pendingin. Jadilah saya bereksperimen membuat pizza.

Oles sini, oles sana, rajang ini, rajang itu…jadilah sebuah pizza berbentuk abstrak!

Rasanya uenaaaakkk!!!

Walaupun abstrak, rasanya uenak! Namanya juga buatan sendiri, jadi bebas-bebas saja memasukkan segala macam bahan yang saya suka.

Tidak sabar rasanya menunggu pacar datang!

Bumbu Instan: Tikka Masala

July5

Sekitar dua minggu lalu saya mendapat kiriman aneka bumbu instan dari negeri seberang. Pengirimnya adalah Indira Usman yang dengan baik hati menitipkan bumbu-bumbu itu pada ibunya yang kebetulan sedang berkunjung ke Selandia Baru. Lalu dengan tidak kalah baiknya sang ibu mengirimkannya pada saya melalui paket kilat. Motivasinya tidak lain dan tidak bukan adalah karena prihatin pada saya yang amat suka masakan India dan bermacam makanan berkeju namun kesulitan mendapatkan bumbu-bumbunya di sini.

Akhirnya baru hari Minggu kemarin saya sempat mencobai salah satu bumbu instan itu. Yang saya coba pertama adalah ‘Patak’s Original Tikka Masala Paste’. Tentu saja bumbu instan ini akan menghasilkan sebuah masakan India bernama Tikka Masala dengan bumbu berwarna oranye yang kental, agak pedas, beraroma kuat, dan lumayan segar karena mengandung potongan-potongan tomat.

Bagi saya, menggunakan bumbu instan tidaklah haram karena bumbu instan sungguh menghemat waktu dan biaya, juga membebaskan pemasak dari kerepotan. Bayangkan bila saya harus membeli satu per satu rempah-rempah yang diperlukan untuk membuat sebuah masakan India untuk selanjutnya saya takar-takar dan haluskan, tentu akan makan waktu dan biaya lebih. Belum lagi bila saya tidak bisa menemukan salah satu atau beberapa bagian dari bumbu itu. Akan hancurlah rasa masakan nantinya.

Namun saya juga bukan orang yang menggunakan bumbu instan dengan ketaatan buta. Saya menggunakan bumbu instan dengan tidak meninggalkan sentuhan kreatifitas sendiri dan justru disitulah keasyikannya. Kadang saya menambahkan bumbu-bumbu kesukaan bahkan kadang-kadang saya menambahkan bahan lain ke dalam masakan. Jadilah masakan unik dengan aroma bumbu dasar yang khas.

Kali ini dalam Tikka Masala saya tambahkan kentang berbentuk dadu yang sudah saya goreng terlebih dahulu agar matang dan tidak mudah hancur ketika harus dimasak agak lama (salah satu ciri khas masakan India adalah teknik memasaknya dengan api kecil dan agak lama sehingga menciptakan masakan dengan bumbu yang merasuk dan bila berkuah akan agak kental).

Hasilnya: saya makan sangat lahap siang itu!

Tikka Masala dengan potongan kentang dan tomat segar.

Ke Roemah Nenek

June5

Ini bukan rumah nenek saya. Tapi ini adalah sebuah restoran di bilangan Taman Cibeunying, Bandung. Bagaimana saya bisa sampai disitu, adalah sebuah keajaiban, karena saya benar-benar nggak kenal jalan-jalan di Bandung. Berbekal sebuah peta hasil coret-moret seorang saudara yang gagap menyebut KFC (dia nyebutnya kei-ef-ci), saya mencoba menjelajah labirin kota Bandung nan padat disiang hari.

Setibanya disana (syukurnya tanpa kesasar), yang saya dapati adalah sebuah rumah bergaya tempo doeloe nan adem oleh pepohonan rindang. Dekorasi restoran ini sederhana. Tidak neko-neko. Benar-benar layaknya rumah nenek nan asri dan siap menanti cucu-cucu yang rindu akan kehangatan khas eyang.

Makanan yang ditawarkan cukup beragam. Mulai dari makanan barat (steak, dan lain-lain), makanan Sunda, dan makanan Indonesia pada umumnya. Di dalam buku menu juga disebutkan makanan-makanan khas Roemah Nenek yang cukup unik. Saya jelas memilih makanan unik itu. Dan pilihan jatuh pada Nasi Pepes Bakar (nasi putih yang pulen, dipepes bersama potongan daging ayam, ikan asin, pete, dan sayuran, kemudian dibakar). Untuk minuman saya pilih Jahe Rempah Spesial (seduan jahe, daun sereh, teh, gula merah, kayu manis, cengkeh, dan daun pandan) yang benar-benar menghangatkan badan nan kedinginan digigit udara Bandung yang mendung seharian.

Puas dengan makanan tingkat satu, saya mulai menggila menelusuri daftar menu untuk makanan ronde kedua. Maklum, makanan di resto ini bisa dibilang murah sehingga saya bisa bebas tambah makanan. Pilihan jatuh pada Kambing Bakar. Sayang pilihan saya kali ini kurang tepat. Rasanya yang nggak jelas dan porsinya yang sangat kecil membuat saya kecewa beberapa jenak. Untung saya juga memesan Iga Bakar. Dan Iga Bakar itu benar-benar mengobati rasa kecewa saya. Rasanya yang enak dengan saus yang meresap, serta daging yang empuk, berhasil membuai lidah yang hampir menyatakan protes.

Secara keseluruhan, resto ini patut dapat acungan jempol. Suasananya dapet banget. Meja dan kursi jadul (minjam istilahnya pak Bondan) yang selalu melekat dalam bayangan saya tentang rumah seorang nenek ada disana. Makanan dan harganya cukup masuk akal. Pelayanannya cepat. Dan yang nggak kalah penting, di Roemah Nenek yang satu ini, saya bisa menyalurkan hasrat ber free wifi! Rumah nenek mana lagi coba yang bisa begini???

Roemah Nenek
Jl. Taman Cibeunying Selatan No. 47
Bandung – Indonesia
Telp/Fax: (+62-22) 727 1745

Menggilai Yoghurt

December9

Yoghurt

Beberapa hari belakangan saya tergila-gila makan/minum yoghurt! Bukan frozen yoghurt seperti yang sedang tren sekarang, tapi yoghurt organik segar yang tanpa sengaja saya temui produsennya di Bali.

Istilah yoghurt sendiri berasa dari bahasa Turki yang berarti susu asam. Proses fermentasi yoghurt yang menggunakan bakteri Streptococcus thermophilus dan Lactibacillus bulgaricus yang mengurai gula susu (laktosa) menjadi asam laktatlah yang bertanggungjawab atas rasa asam itu. Proses fermentasi ini juga yang membuat kadar laktosa yoghurt lebih rendah daripada susu hingga aman dikonsumsi oleh mereka yang sensitif terhadap laktosa dan alergi terhadap susu.

Memang bukan hal baru bahwa saya suka yoghurt. Beberapa tahun lalu, semasa kuliah, saya pernah melakukan perjalanan Jakarta-Bandung pulang pergi dalam satu hari hanya untuk makan/minum yoghurt Cisangkuy yang tenar itu. Padahal waktu itu belum ada jalan tol Jakarta-Bandung. Jadi perjalanan Jakarta-Bandung memakan waktu sekitar 3,5 jam.

Kemarin malam saat berdiskusi dengan pacar tentang betapa banyaknya saya mengonsumsi yoghurt akhir-akhir ini, barulah terpikir untuk mencari dosis harian yang tepat agar tidak berlebihan dan justru menimbulkan gangguan kesehatan. Sayangnya, hingga pagi ini saya belum menemukan dosis itu. Yang saya temukan justru daftar panjang manfaat mengonsumsi yoghurt yang sayang rasanya kalau tidak saya bagi disini.

Dan inilah sebagian manfaat mengonsumsi yoghurt secara rutin yang saya dapat dari sini:

- Yoghurt dapat menghasilkan zat-zat bergizi yang berguna untuk hati sehingga dapat mencegah kanker.

- Mikroba dalam yoghurt dapat membantu proses pencernaan sehingga baik bagi mereka yang punya masalah dengan pencernaan.

- Yoghurt memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi daripada susu dengan kadar lemak yang lebih rendah. Hal ini baik bagi mereka yang sedang melakukan diet rendah kalori.

- Yoghurt dapat membantu penyembuhan lambung dan usus yang luka.

- Yoghurt dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah.

Membaca semua manfaat itu, rasanya saya akan membuat jadwal minum yoghurt secara teratur!

« Older Entries