narcistbandit

I'm from no generation, I'm part of no group, I'm totally floating and this is the whole story, and why I can survive
Browsing Travel & Living

Singapura, 60 jam.

August31

Pagi itu saya berangkat ke Singapura bertepatan dengan satu tahun perjalanan 5 hari 6 negara yang sangat berkesan. Tepat tanggalnya, tepat jamnya, tepat pula maskapai penerbangan yang saya pakai. Benar-benar tepat. (Saya baru menyadari hal ini ketika membuka-buka paspor sambil menunggu panggilan untuk naik ke pesawat).

Jadi ceritanya pesawat berangkat jam 06.55 WITA. Semua tepat waktu. Sesampainya di Singapura (jam 09.20) saya disambut hujan yang lumayan deras. Hujan ini kemudian membawa kesejukan sepanjang hari pertama saya di sana. Karena saya tidak mau berbasah-basah menuju ke kota, maka saya memilih untuk internetan dulu di Changi sekalian mengumpulkan informasi mengenai arah dan tujuan saya hari ini.

Setelah puas internetan, saya memutuskan bahwa tujuan pertama saya adalah Orchard Road (sangat turis!). Jadilah saya naik skytrain ke terminal 2, lalu naik MRT ke Orchard (sekali lagi, untuk menuju Orchard dari bandara Changi, tinggal naik dari terminal 2, turun di stasiun Tanah Merah, lalu langsung sambung ke kereta yang menuju Joo Kon dan berhenti di stasiun City Hall. Dari situ sambung lagi kereta yang menuju ke Jurong East dan turun di stasiun Orchard. Mudah dan murah). Di Orchard saya menghabiskan waktu untuk makan siang karena hotel tempat saya menginap baru menerima check-in sekitar jam 14.00.

Setelah puas mengisi perut dengan makanan India dan segelas teh peng (istilah orang Singapura untuk es teh manis plus susu) di foodcourtnya Ion, sayapun bergerak keluar menuju Orchard Road yang terkenal itu. Hujan, walaupun sudah tidak deras, masih setia menemani langkah kaki ketika saya menuju ke salah satu gedung untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh pacar. Sayangnya, tugas tidak bisa saya tunaikan dengan baik karena apa yang dicari sudah tidak ada. Saya pun langsung menuju stasiun MRT dan melanjutkan perjalanan ke Clarke Quay dimana hotel saya berada.

River City Inn

Itulah nama hotel tempat saya menginap. Terletak di Hong Kong Street No. 33C, hotel ini sangat mudah dijangkau dengan jalan kaki dari stasiun Clarke Quay. Petunjuk yang diberikan di website hotel inipun sangat mudah dipahami.

Sesampainya di depan pintu hotel, saya langsung disambut ramah oleh sang pemilik. Saya diminta untuk melepaskan sepatu (ada rak sepatu di luar) dan diambilkan segelas air dingin yang terasa sangat menyegarkan setelah agak ngos-ngosan mendaki anak tangga menuju lantai 4 tempat hotel ini berada. Setelah proses check-in yang sangat mudah, sayapun diajak berkeliling untuk melihat fasilitas hotel itu. Pertama saya ditunjuki deretan kamar mandi yang sangat bersih, juga toilet, dan ruang untuk berganti pakaian. Tidak ketinggalan saya ditunjuki tempat penitipan tas, bila saya mau late check-out, dan ruang cuci pakaian.  Setelah itu saya diajak ke ruang tamu, dimana ada sebuah TV layar datar berukuran besar, seperangkat sofa, sebuah meja makan, pantry yang lengkap dengan microwave, pemanggang roti, dispenser, serta teh, kopi, dan susu yang boleh saya konsumsi kapanpun sepanjang hari secara gratis, juga ada dua meja dimana komputer berinternet berada di atasnya. Sayapun boleh internetan di kamar memakai laptop karena hotel ini juga dilengkapi fasilitas wifi gratis.

Selanjutnya saya di ajak menuju ke area kamar. Ini adalah hal yang paling mendebarkan. Pasalnya, saya memilih sebuah kamar yang berisi 24 tempat tidur. Artinya saya akan tidur bersama 23 orang yang tidak saya kenal. Tapi begitu melihat kerapian dan kebersihan kamarnya, ketakutan sayapun hilang seketika. Yang muncul adalah perasaan penasaran, bagaimana rasanya tidur di tempat ini nanti malam. Acara tur mengelilingi hotel diakhiri dengan diserahkannya kunci locker dan lampu baca kepada saya.

Ruang bersama/ruang makan, resepsionis, dan tempat tidur saya.

Secara keseluruhan, hotel kecil ini sangatlah memuaskan. Untuk SGD 26 nett per malam per orang, fasilitas yang diberikan oleh hotel ini bagi saya sangatlah berlebih. Ruangan ber-AC yang sejuk, air panas dan dingin untuk mandi (bahkan mereka juga menyediakan sabun dan shampoo di kamar mandi), kamar yang bersih dan rapi, sarapan yang enak, dan yang paling penting adalah keramahan pemilik hotel yang sangat menyenangkan.

Di malam hari, lampu besar di dalam kamar dimatikan pukul 23.00. Setelah itu, bila ingin membaca atau melakukan aktivitas, bisa memakai lampu baca yang diberikan kepada setiap tamu atau bersantai di ruang tamu. Sungguh nyaman.

Silakan klik di sini kalau mau info lebih lanjut tentang River City Inn.

Sisi Lain Singapura

Setelah menaruh barang di hotel, saya melanjutkan perjalanan mencari sebuah jalan bernama Ann Siang Hill. Di sana katanya ada sebuah toko buku unik bernama Books Actually. Toko buku ini katanya dimiliki oleh dua orang kutu buku yang senang mengumpulkan buku dan barang-barang antik.

Dengan tekat kuat, saya pun bergerak melintas China Town, menelusuri South Bridge Road dan memasuki daerah unik yang bangunan-bangunannya bergaya khas Eropa. Nama jalannyapun  memakai nama-nama Eropa. Di situ saya menemui banyak cafe kecil yang terlihat cantik menghiasi jalanan. Saya juga menemui restoran-restoran mahal yang terlihat sangat romantis walaupun angkuh.

Setelah berjalan agak lama akhirnya saya menemukan toko buku yang saya cari. Rupanya tidak salah apa yang selama ini saya dengar. Toko buku berlantai tiga itu memang sangat unik. Tatanan di dalamnya sangat hangat dengan buku-buku tua dan benda-benda unik tersusun rapi. Saya bisa menemukan bermacam barang, mulai dari mesin ketik tua, botol-botol susu dari era eyang saya, sampai ke poster-poster film. Sungguh membuat lelah di sepanjang perjalanan terbayar tunai.

Books Actually yang unik itu.

Puas melihat-lihat isi Books Actually, sayapun melanjutkan perjalanan. Masih di sekitar situ, saya menemukan toko-toko kecil yang menjual benda-benda unik. Sungguh pengalaman seru saya bisa menemukan daerah ini.

Sisi lain Singapura tentunya tidak lengkap tanpa pengalaman mendatangi sebuah gay club. Terimakasih pada seorang teman yang dengan baik hati mengajak saya ke sana setelah sebelumnya ngobrol-ngobrol bersama di sebuah klub di bilangan Club Street.

Makanan dan Minuman

Makanan yang selalu saya kejar selama di Singapura adalah makanan khas India. Berbeda dengan di Indonesia, dimana makanan khas India selalu adanya di restoran dan harganya boleh dibilang tidak murah, di Singapura saya bisa makan makanan khas India dengan harga murah, porsi banyak, dan di pinggir-pinggir jalan. Jadi, selama di Singapura, makan siang dan makan malam saya adalah makanan khas India. Sampai puas!

Untuk minuman, buat saya tidak ada yang mengalahkan teh peng. Teh manis dengan campuran susu dan es batu ini sungguh menyegarkan. Sebagai catatan, di Singapura, bila menyebut kata ‘teh’ maka teh hangat dengan campuran susulah yang akan disajikan. Bila ingin minum teh hangat tanpa susu maka yang harus disebut adalah ‘teh oh’. Sedangkan bila ingin yang dingin maka haruslah ditambah kata ‘peng’. Bila tidak suka manis atau mau yang tawar, tambahkan lagi kata ‘kosong’. Hal ini juga berlaku untuk kopi. Jadi kalau mau pesan ‘kopi susu manis dingin’ yang harus disebut adalah ‘kopi peng’ atau kalau mau yang tidak manis maka tinggal sebut ‘kopi kosong peng’. Singkat dan padat!

Saya harus memberi catatan tersendiri mengenai sarapan di Singapura karena suatu pagi ketika saya ngobrol dengan pemilik hotel yang ramah, dia mengatakan bahwa sarapan khas masyarakat Singapura adalah roti bakar dengan selai kaya. Lalu seorang tamu dari Jepang bertanya: “apakah selai kaya itu?”
Saya dengan tenang menjawab bahwa kaya adalah nama buah dan langsung diprotes oleh si pemilik hotel. Dia bilang bahwa kaya adalah campuran dari susu, gula, pandan, dan santan. Barulah saya sadar bahwa apa yang selama ini saya kira adalah selai buah rupanya bukan (selama ini saya mengira bahwa selai kaya terbuat dari buah Srikaya).

Sejak itu, saya jadi penggila selai kaya. Sampai sekarang, tiap pagi saya makan roti bakar dengan olesan selai kaya.

Kuliner unik Singapura.

Tax Refund

Acara jalan-jalan ke Singapura kali ini saya tutup dengan mengurus pengembalian pajak. Fasilitas ini diberikan pada mereka yang berbelanja di Singapura namun bukan warga negara Singapura.

Caranya mudah, tinggal minta nota pengembalian pajak dari toko tempat membeli barang untuk kemudian dibawa ke gerai-gerai pengembalian pajak yang banyak tersebar di bandara. Tunjukkan barang yang dibeli pada petugas pajak dan selesailah. Uang pajak pembelian segera dikembalikan begitu saja.

Gavin Stamp’s Orient Express

July7

Satu lagi tontonan menarik yang saya temukan di saluran BBC Knowledge. Judulnya sama dengan judul tulisan saya ini. Kisahnya adalah tentang pejalanan seorang Gavin Stamp yang adalah penulis dan ahli sejarah arsitektur dalam menyusuri negara-negara yang berada dalam jalur kereta api legendaris Orient Express. Jalur kereta api tersebut adalah dari London ke Istanbul dengan melintasi Paris, Wina, Budapest, Belgrade, dan Bucharest.

Yang menarik dari tayangan ini adalah bahwa di dalamnya, Stamp tidak pernah ragu untuk memberikan komentar-komentar unik bahkan terkadang pedas akan tempat yang sedang didatanginya. Ia juga tidak pernah menyembunyikan ‘kebodohan’-nya hingga menjadi kelucuan tersendiri,  seperti ketika dalam satu tayangan ia baru tersadar berdiri di bagian khusus perempuan setelah sekian lama khusyuk mengikuti sebuah misa di sebuah gereja ortodoks (gereja ortodoks memisahkan lokasi laki-laki dan perempuan di dalam gerejanya).

Hal lain yang saya sukai dalam acara ini adalah bahwa Stamp membawa saya berjalan-jalan ke kota-kota di Eropa Timur. Saya adalah orang yang tidak terlalu suka Eropa dan tidak pernah memasukkan Eropa dalam daftar tempat yang ingin saya datangi. Tapi Stamp membuka mata saya. Eropa Timur rupanya sangat menarik. Kotanya, bangunan-bangunannya, masyarakatnya, masih sangat kental memperlihatkan sisa kejayaan komunisme. Abu-abu, muram, keras, bergabung dengan keindahan menimbulkan kesan unik dan membuat saya ingin melihat dengan mata-kepala sendiri.

Jadi, tujuan backpacking saya berikutnya adalah: Bulgaria!!

PS: Mungkin saya bisa mampir ke Turki dulu, mengunjungi seorang sahabat di sana.

Ke Klungkung

June12

Walaupun sudah 5 tahun tinggal di Bali, tapi saya belum pernah benar-benar menjelajahi kota-kotanya. Bahkan Klungkung yang hanya berjarak sekitar 1,5 jam dari Denpasar saja hanya pernah saya lewati tanpa benar-benar saya telusuri detailnya.

Beruntung saya bertemu Kadek (terimakasih pada Plurk dan KFC) yang adalah teman sejurusan pacar saya. Dialah yang mengajak saya untuk jalan-jalan ke kampungnya di Klungkung. Tentu saja ajakan itu tidak saya sia-siakan. Sepeda motor saya nyalakan, jaket saya kenakan, helm saya kencangkan, dan jadilah perjalanan meraba-raba (karena Kadek sendiri agak lupa jalan menuju kampungnya) menjelajah Klungkung.

Perjalanan bermula dengan menjemput Kadek di Kuta lalu berlanjut dengan kebingungan ke mana motor ini harus di arahkan. Akhirnya saya putuskan untuk mengambil jalur bypass menuju Sanur lalu lanjut ke Batu Bulan. Jalur ini saya ambil karena menurut Kadek, jalan bypass Ida Bagus Mantra sedang rusak, padahal rute itulah yang sebenarnya paling ringkas.

Bermotor menuju Klungkung rupanya sangat menyenangkan. Setelah melintas Batu Bulan lalu mengarah ke Gianyar, mata ini disuguhi pemandangan alam dari bukit-bukit hingga persawahan yang hijau menggoda. Melewati kota Gianyarpun jadi pemandangan tersendiri. Kota yang rapi dan bersih itu serasa memanggil-manggil saya untuk mampir. (Mungkin lain kali saya akan menjelajah Gianyar sendirian)

Sampai di Klungkung, kami langsung menuju rumah milik keluarga Kadek. Menurut Kadek, rumah itu sudah ditinggali keluarganya sejak jaman nenek buyut. Hingga sekarang, cucu dan cicit masih berkumpul di sana. Sangat hangat rasanya. Sehangat makan siang yang langsung tersedia begitu kami datang. Makan siang khas Bali dengan bumbu-bumbu beraroma kuat dan sambal bawang goreng yang nikmat.

Selesai makan, perjalanan kami lanjutkan ke Kerta Gosa, sebuah tempat yang tadinya adalah puri raja Klungkung. Di tempat inilah pada tahun 1908 terjadi puputan atau perang hingga titik darah penghabisan. Seluruh anggota kerajaan dibantai habis oleh Belanda dan purinya sendiri dihancurkan. Yang tersisa saat ini adalah gapura dan beberapa bangunan yang dulunya merupakan tempat raja bertemu dengan petinggi-petingginya.

Gapura puri yang masih tersisa.

Salah satu bangunan yang dulunya adalah tempat pertemuan raja.

Bukan hanya bangunan di Eropa yang atapnya berlukisan. Di Bali pun ada!

Puas dengan museum, kami segera bermotor ke Goa Lawah. Di tempat ini, ada pura unik yang berada di dalam goa penuh kelelawar. Bahkan di siang hari saja, saya bisa mendengar cicitan ratusan kelelawar yang kadang terbang meliuk-liuk di dalam gua. Beruntung bahwa hari itu sedang ada upacara di sana, sehingga saya bisa menyaksikan kegiatan melarung.

Goa Lawah nan mistis.

Kegiatan melarung.

Kegiatan jalan-jalan kami akhiri dengan duduk di tepi pantai sambil menikmati kelapa muda utuh yang diberi es batu dan perasan jeruk nipis. Obrolan pun mengalir ngalor-ngidul. Serunya jalan-jalan saya kali ini!

Ekspedisi Maluku Hari-6 (Ternate – Jakarta)

May23

Hari kepulanganpun tiba. Pagi-pagi buta saya dan Adith telah dibawa oleh ‘taksi’ dari hotel ke bandara. Di bandara yang lebih mirip kantor camat itu, antrian check-in sudah cukup panjang. Banyak juga orang yang bepergian dari Ternate ke Jakarta.

Setelah sukses melewati petugas x-ray bandara yang curiga dengan bawaan kami (saya dan Adith membawa begitu banyak kulit kerang sebagai kenang-kenangan dari pulau-pulau yang kami datangi), kamipun menunggu di ruang tunggu bandara yang walaupun sudah banyak ditulisi sebagai daerah bebas rokok, tetap saja dipenuhi asap rokok dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Menunggu dan menunggu. Pesawat kami mundur dua jam dari jadwal semula tanpa pemberitahuan yang jelas. Akhirnya, karena capai yang sudah memuncak, begitu pesawat lepas landas, saya dan Adithpun sukses tertidur.

Inilah bagian akhir dari rangkaian tulisan ekspedisi Maluku. Sungguh sebuah pengalaman yang tak terlupakan dan tak ternilai harganya.

Catatan:
Untuk foto-foto lengkap dari ekpedisi ini, silakan klik Gallery
Untuk ulasan tentang makanan selama ekspedisi ini, silakan klik Kulineran

« Older Entries