narcistbandit

I'm from no generation, I'm part of no group, I'm totally floating and this is the whole story, and why I can survive
Browsing Writing

Ekspedisi Maluku – Awalnya Adalah Kata-Kata

April3

“Nyet, daerah mana yang belum banyak ditulis orang?”

Itulah pertanyaan yang suatu siang dilontarkan oleh seorang teman lewat Yahoo Messenger. Saya terdiam sejenak untuk berpikir.

“Tidore!” Jawab saya mantap.

Entah kenapa nama daerah itu terlintas di kepala saya. Mungkin karena Ternate, yang selalu diletakkan di depan Tidore, telah lebih banyak mendapat sorotan.

Teman saya lalu mengiyakan bahwa memang Tidore masih jarang ditulis orang. Kontan dia mengajak saya untuk ikut ke sana bila kantornya meluluskan proposal yang hendak dibuatnya demi bisa meliput.

Pembicaraanpun berakhir. Kata-kata tertimbun kesibukan yang menggila. Hanya sesekali kami bertukar info tentang obyek-obyek menarik yang perlu kami datangi bila memang jadi ke Tidore.

Beberapa bulan berselang. Telpon genggam saya berdering. Isinya berita tentang kemungkinan proposal perjalanan segera mendapat persetujuan. Tiket pesawatpun mulai diburu. Harga yang beberapa bulan lalu berkisar di 2 jutaan telah turun menjadi sekitar 1,6 juta rupiah. Ini kesempatan langka dan tiket dengan harga murah tidak mudah didapat bila kami tidak bergerak cepat. Sayapun harus segera mengambil keputusan untuk jadi ikut atau tidak.

Akhirnya tekadpun dibulatkan. Saya dan Adith siap berekspedisi ke Maluku!

Catatan:
Beberapa entri ke depan akan berisi catatan perjalanan saya dan Adith menjelajahi Maluku.

posted under Writing | No Comments »

Jadi Guru

August9

 

Salah satu dari sekian banyak cita-cita saya adalah ingin menjadi guru. Segelintir orang dari masa kecil saya pasti tahu dan ingat betapa senang dan seringnya saya bermain-main menjadi seorang guru. Bahkan diantara teman sepermainan masa kecil dulu, sayalah yang selalu berperan menjadi guru bila kami sedang bermain peran. Padahal banyak diantara mereka yang kelas disekolahnya sudah jauh lebih tinggi daripada saya.

Berbicara tentang menjadi guru, saya baru saja selesai menyaksikan sebuah film berjudul “Entre les murs” atau yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris menjadi “The Class”. Film ini bercerita tentang kelas bahasa Prancis di sebuah sekolah yang muridnya begitu beragam dan berada di sebuah lingkungan yang keras. Seorang guru bernama François Marin (yang diperankan sendiri oleh penulis novel yang diangkat menjadi film ini, François Bégaudeau) bersama guru-guru lain berusaha keras menghadapi murid-murid yang karena berasal dari lingkungan yang keras, begitu sulit diajar. Bermacam konflik timbul didalam kelas. Mulai dari masalah sopan-santun, masalah keluarga, hingga masalah emosi yang sering tidak terkendali.

Tidak seperti film-film lain tentang anak nakal atau sekolah yang berisi anak-anak nakal, film ini tampak begitu realistis. Semua pemainnya tampak sangat piawai memainkan perannya. Padahal sebagian besar pemainnya adalah anak-anak usia muda yang menjadi murid dalam kelas bahasa Prancis itu. Saya benar-benar tidak bisa melepaskan mata saya saat menonton film ini. Semua adegannya begitu menarik dan nyata. Bagaikan menyaksikan sebuah film dokumenter tentang sebuah kelas.

Tak heran film ini menjadi nominasi ‘Best Foreign Langunge Film of The Year’ untuk penghargaan Oscar tahun 2009 dan berhasil menyabet penghargaan ‘Golden Palm’ dalam ajang bergengsi Cannes Film Festival 2008.

Nilai dari saya sendiri, film ini masuk dalam kategori Wajib Tonton.

 

Catatan:
Film berbahasa Prancis ini telah membangkitkan dua gairah saya sekaligus. Pertama, gairah untuk menjadi guru dan kedua, gairah untuk kembali ke sekolah. Dan rasanya saya akan segera melakukan yang kedua.

posted under Writing | 2 Comments »

Jadi lokal

April1

Dua minggu lalu teman seorang teman berkunjung ke Bali. Saya yang sudah (ngrasa) lama tinggal disini dan (ngrasa) tahu tempat-tempat menarik untuk dikunjungi menawarkan tenaga untuk mengajak jalan-jalan.

Awalnya saya menawarkan lokasi-lokasi standar untuk dikunjungi, tapi akhirnya setelah tahu orang yang saya ajak jalan-jalan sama gilanya seperti saya, maka perjalananpun mulai tidak umum. Berawal dari Kuta, kami bergerak menuju Ubud. Disana kami sempat berjalan-jalan keliling pasar di pusat Ubud. Lelah berkeliling, kamipun bergerak ke daerah Tegallalang. Disana hamparan sawah hijau dengan bentuk terasering yang cantik sempat membuai kami dan terlena duduk-duduk agak lama sebelum akhirnya panggilan alam (keroncongan) mengundang. Kamipun bergerak (balik) ke Naughty Nuri di Ubud.

Perjalanan mulai nggak umum ketika akhirnya dari Naughty Nuri kami memutuskan untuk berpetualang ke Tirtha Gangga. Tirtha Gangga adalah sebuah taman air milik raja Karangasem yang terletak di Bali bagian timur. Agak jauh dan melanglang buana sebenarnya, tapi dasar gila, ya dijalanin deh!

Berpegangan pada peta (ada dua peta Bali yang persis sama. Satu milik saya yang usianya sudah 3 tahunan, yang satu milik temannya teman saya yang masih gres, baru aja dibeli di Periplus Ubud) kamipun seseruan nyasar-nyasar aneh. Tapi akhirnya sampe juga. Seru juga.

Dari Tirtha Gangga kami memutuskan untuk makan malam di Jimbaran. OMG…melanglang buana lagiii…

Dari semua itu, ada satu yang saya sadari: bahwa semakin lama saya tinggal di Bali, saya makin berubah menjadi lokal. Bayangkan, dalam perjalanan yang begitu berharga ini, dengan semua pemandangan cantiknya, saya TIDAK MEMBAWA KAMERA!!!

posted under Writing | No Comments »

Skip Maret

March1

Kayaknya butuh alat ini:

Karena pengen banget bisa skip bulan Maret dan langsung sampe di April tanggal 20an. Duuuuhhh…

posted under Writing | 4 Comments »
« Older Entries