Memasukkan tanaman

Belakangan banyak teman (termasuk saya) mengeluh tentang suhu udara yang semakin panas. Nggak di Jakarta, nggak di Bali, nggak di mana-mana, semua mengeluh kepanasan. Dan terutama bagi kami yang tinggal di Bali, kami sungguh heran mengapa musim hujan belum juga datang. Kemarau begitu panjang tahun ini.
Untuk mengatasi panas yang menggila, seorang teman dengan bangga membeli AC, sebuah mesin pendingin ruangan yang menurut saya bukanlah solusi terbaik untuk mengatasi suhu udara seperti ini. Logikanya adalah: bumi semakin panas = orang makin banyak membeli dan menggunakan AC = bumi semakin panas. Jangan lupa, bahwa AC adalah sebuah mesin yang ikut bertanggungjawab atas rusaknya lapisan ozon.
Saya jadi teringat ketika kecil dulu. Ibu selalu bilang bahwa kalau rumah tidak mau panas, rawat tanaman yang ada di halaman supaya bisa dimasukkan kedalam pot dan saat siang hari bisa dimasukkan ke dalam rumah. Karena O2 yang dilepaskan tanaman dari proses fotosintesis dapat secara alami menyejukkan ruangan. Ini sama dengan anjuran guru IPA saat SD dulu untuk duduk di bawah pohon rindang ketika hari sangat panas. Guru saya itu bilang bahwa kami akan bisa merasakan kesegaran dari O2 hasil fotosintesis sang pohon.
Menanam pohon memang bukan solusi instan seperti membeli dan menyalakan AC. Butuh waktu dan tenaga untuk akhirnya bisa menikmati suhu udara yang sejuk bila kita memilih solusi ini. Namun, menurut saya, solusi inilah yang terbaik bagi lingkungan. Karena dengan semakin banyak pohon maka zat CO2 dapat diserap dan akhirnya secara global mampu menurunkan suhu bumi.
Mulailah dari yang kecil, mulailah dari diri sendiri. Marilah berdampak bagi lingkungan.
Tikkun olam.


