Teman yang bodoh
“Berhati-hatilah berteman dengan orang bodoh karena bisa-bisa orang itu mencelakakan kita dengan kebodohannya.” Begitu kata-kata bijak dari seorang guru. Kata-kata itu kemudian dilanjutkan dengan sebuah contoh yang sampai saat ini begitu saya ingat:
Alkisah berjalanlah seseorang dengan temannya yang bodoh. Dalam perjalanan, karena kelelahan, mereka duduk dan berbincang-bincang di bawah pohon rindang. Tak lama kemudian si orang itu pamit untuk tidur sebentar. Temannya yang bodohpun meng-iya-kan dan berkata akan berjaga-jaga kalau ada apa-apa. Ketika orang itu tertidur pulas, hinggaplah seekor lalat ke pipinya. Temannya yang bodoh tidak rela tidur orang itu terganggu karena lalat. Ia sungguh ingin menjaga agar sahabatnya yang lelah bisa tetap tidur nyenyak. Maka si bodohpun beranjak dan mengambil sebongkah batu besar, lalu dilemparkannya batu besar itu pada lalat yang menempel di pipi sahabatnya.
Kisah itu sungguh membuka pikiran saya bahwa berteman dengan orang bodoh, walaupun sangat baik hati, tetap saja bisa menimbulkan bahaya. Itulah yang terjadi pada saya beberapa saat lalu (bahkan hingga kini). “Teman” saya yang dengan kebodohannya melakukan sesuatu kemudian terkena masalah, akhirnya menyeret saya kedalam masalahnya. Saya jadi ikut-ikutan repot, terluka, dan melukai banyak orang lainnya.
Hebatnya, lagi-lagi karena kebodohannya, dia tidak merasa ‘melukai’ orang-orang di sekitarnya. Dia merasa telah bertindak benar dan orang-orang yang merasa terlukai itulah yang salah. Bahkan dengan tindakannya sekarang, ia benar-benar seperti tidak merasa telah melakukan kesalahan.
Pelajaran hidup yang bisa saya ambil adalah bahwa saya harus lebih waspada bila berteman dengan orang yang bodoh. Bukan saya tidak mau berteman, tapi kewaspadaan ini penting untuk melindungi saya dari dampak kebodohan mereka.


