narcistbandit

I'm from no generation, I'm part of no group, I'm totally floating and this is the whole story, and why I can survive
Browsing Philosophy

Teman yang bodoh

July11

“Berhati-hatilah berteman dengan orang  bodoh karena bisa-bisa orang itu mencelakakan kita dengan kebodohannya.” Begitu kata-kata bijak dari seorang guru. Kata-kata itu kemudian dilanjutkan dengan sebuah contoh yang sampai saat ini begitu saya ingat:

Alkisah berjalanlah seseorang dengan temannya yang bodoh. Dalam perjalanan, karena kelelahan,  mereka duduk dan berbincang-bincang di bawah pohon rindang. Tak lama kemudian si orang itu pamit untuk tidur sebentar. Temannya yang bodohpun meng-iya-kan dan berkata akan berjaga-jaga kalau ada apa-apa. Ketika orang itu tertidur pulas, hinggaplah seekor lalat ke pipinya. Temannya yang bodoh tidak rela tidur orang itu terganggu karena lalat. Ia sungguh ingin menjaga agar sahabatnya yang lelah bisa tetap tidur nyenyak. Maka si bodohpun beranjak dan mengambil sebongkah batu besar, lalu dilemparkannya batu besar itu pada lalat yang menempel di pipi sahabatnya.

Kisah itu sungguh membuka pikiran saya bahwa berteman dengan orang bodoh, walaupun sangat baik hati, tetap saja bisa menimbulkan bahaya. Itulah yang terjadi pada saya beberapa saat lalu (bahkan hingga kini). “Teman” saya yang dengan kebodohannya melakukan sesuatu kemudian terkena masalah, akhirnya menyeret saya kedalam masalahnya. Saya jadi ikut-ikutan repot, terluka, dan melukai banyak orang lainnya.

Hebatnya, lagi-lagi karena kebodohannya, dia tidak merasa ‘melukai’ orang-orang di sekitarnya. Dia merasa telah bertindak benar dan orang-orang yang merasa terlukai itulah yang salah. Bahkan dengan tindakannya sekarang, ia benar-benar seperti tidak merasa telah melakukan kesalahan.

Pelajaran hidup yang bisa saya ambil adalah bahwa saya harus lebih waspada bila berteman dengan orang yang bodoh. Bukan saya tidak mau berteman, tapi kewaspadaan ini penting untuk melindungi saya dari dampak kebodohan mereka.

Mencoba mengerti

February18

Tahukah Anda bahwa mencoba mengerti adalah sebuah kegiatan yang tidak mudah? Bagi saya, mencoba mengerti adalah sebuah kegiatan yang mengesampingkan (untuk sementara atau permanen) perspektif pribadi atas suatu hal untuk kemudian memakai perspektif orang lain (yang coba untuk dimengerti) dalam melihat hal tersebut. Dalam hal ini, tentu saja perspektif orang yang coba dimengerti itu berbeda sedikit atau banyak dengan perspektif orang yang mencoba mengerti.

Dalam perjalanannya, ada orang-orang yang demikian pandai mengesampingkan perspektif pribadinya dan hampir selalu berhasil memahami perspektif orang lain. Orang inilah yang kemudian dalam percakapan sehari-hari sering dipuji dengan kata-kata: “Ah, dia orangnya memang sangat pengertian.”

Sebenarnya, seperti halnya semua hal di dunia ini, mencoba mengerti juga mempunyai dua sisi. Sisi pertama adalah bahwa orang yang selalu mencoba mengerti akan terlihat seperti orang yang bijaksana. Orang ini selalu bisa memposisikan dirinya dalam diri orang yang sedang minta dimengerti. Tapi di sisi lain, dalam kasus-kasus tertentu, orang yang selalu mencoba mengerti bisa juga dinilai sebagai orang yang lemah. Orang yang tidak mampu mempertahankan pandangan pribadinya. Orang yang terkalahkan oleh kepentingan orang lain.

Lalu salahkah orang yang selalu mencoba mengerti dan mengorbankan dirinya bagi orang yang selalu minta dimengerti? Lagi-lagi bagi saya, ada satu alat ukur yang membedakan orang lemah dengan orang bijak dalam kaitannya dengan sifat pengertian ini. Orang kalah menjadi pengertian karena terpaksa. Sedangkan orang bijak menjadi pengertian karena memang ia memilih untuk itu.

Queer Manifesto

January1

Setiap memasuki tahun baru, saya selalu teringat pada tulisan seorang teman. Tulisan inilah yang saya publish lagi hari ini, karena saya merasa perlu diingatkan dari tahun ke tahun tentang manifesto ini.

Fear use to keep me from expressing who I am. I grew out of that as a teenager. And here is what I discovered. I am a Queer….. one of many. Please enter our world…..

Our emotional state is that of brotherhood.
Our addiction of choice is entertainment.
Our religion of choice is friendship.
Our currency of choice is knowledge.
Our politics of choice is for equal human rights.
Our society of choice is utopian though we know it may never be.

We continue to make strides, despite those of you who want to oppress us.
We will continue to strive, despite those of you who hate us.
We will continue to fight for a better world not just for ourselves, but for all the future generations of the world.
We continue to pack our bodies into bar’s, party’s, club’s, event & chat rooms, to seek out others that are just like us.
To dance fiercely with our brothers and sisters in celebrations of our life, of our culture, and for the values we believe in.
Peace, Love, Freedom, Tolerance, Unity, Harmony, Expression, Responsibility and Respect.

We seek to relinquish our inhibitions, and free ourselves from the restraints you try to put on us.
You may hate us.
You may dismiss us.
You may misunderstand us.
But we can only hope that you do not care to judge us, because we would never judge you.
You may say what you will, but you can’t stop our existents.

We are not moral criminals.
We are not mentally ill.
We are not drug addicts.
We are not devils.
We are one massive, online, global, tribal village that transcends physical geography & blood lines.
We exist without skin color, without nationality, and without religious bias.
Yet you call us moral criminals. Yes, I am a criminal.
My crime is that of love. Whom I choose to love should be no concern of yours.

Our enemy is closed mindedness.
Our weapon of choice is Information.
Our crime of choice is to challenge moronic laws.
Our Passion of choice is acceptance.

We came to accept that we are all equal, and to re-write the programming that you have tried to indoctrinate us with since the moment we were born.
Programming that tells us to hate and judge people who are different from us.
Programming that tells us to close our minds, instead of open them.
We are gay not because we made this choice in life but being gay is a result of life!
You need to realize that the world is not so black and white.
That there is a whole multitude of colors waiting for you, if you can just open your eyes.

- Brian “Shades” Posluszny!

Titik Temu

March17


Nobody knows just why we’re here
Could it be fate or random circumstance
At the right place at the right time
Two roads intertwine.
Rivermaya, You’ll be safe here (2007)

Suatu malam saya merenung tentang titik temu. Titik temu antara satu manusia dengan manusia yang lain. Titik temu antara dua jalan hidup yang awalnya tidak saling tahu, tidak saling mengenal, tapi kemudian jadi saling mempengaruhi dan bahkan mencoba melebur. Dua jalan hidup yang coba disatukan untuk kemudian dititi bersama.

Memang titik temu itu tidak selalu harus berakhir dengan menjalani jalan hidup bersama. Karena titik temu antar dua manusia sangatlah luas artinya. Saya jadi membayangkan betapa beruntungnya saya bisa duduk disebelah seorang fotografer Associated Press (AP) dalam penerbangan terakhir kemarin. Kami bertemu di satu titik, satu waktu, satu tempat, walaupun berbeda kepentingan. Sekarang, kartu namanya ada di koleksi kartu nama saya. Dan sering dengan bangga saya tunjukkan pada teman-teman fotografer disini.

Perenungan mencapai tingkat dimana saya mulai berpikir, apakah semua itu adalah kebetulan. Atau ada yang mengatur?  Apakah memang sebuah kebetulan ketika pagi itu saya membuka website sebuah maskapai penerbangan, menekan ini dan itu, mencari-cari tanggal dengan harga yang tepat, lalu membuat reservasi, sementara ditempat lain, diwaktu yang mungkin berbeda, ada juga orang yang melakukan hal yang sama tanpa saya tahu dan kemudian berakhir dengan kami duduk bersebelahan dalam satu lorong terbang bernama pesawat? Apakah memang sebuah kebetulan ketika saya membuka sebuah profil di internet, dari jutaan profil yang ada, mengirim pesan singkat, lalu berlanjut menjadi sebuah hubungan yang mendalam. Kenapa saya memilih tanggal itu? Kenapa saya memilih maskapai itu? Kenapa saya bisa dapat tiket itu? Kenapa saya memilih profil itu? Kenapa saya mengirim pesan singkat? Kenapa saya memilih website itu? Kenapa bukan tanggal yang lain? Kenapa bukan maskapai lain? Kenapa saya tidak kehabisan tiket? Kenapa saya tidak memilih profile yang lain? Kenapa pesan singkat saya dibalas? Kenapa saya tidak memilih website lain? Kenapa koneksi internet saya tidak rusak?

Aaaagggrrhhh….begitu banyak elemen yang membangun sebuah titik temu. Kalau memang itu kebetulan, begitu banyak kebetulan disana. Begitu banyak ketidak sengajaan disana. Kalau memang ada yang mengatur, berarti si pengatur itu pastilah sesuatu yang hebat.

Bagaimanapun, baik yang percaya pada kebetulan ataupun tidak, sebuah titik temu yang terbentuk dari begitu banyak elemen, hanyalah cara untuk menunjukkan betapa manusia tidak ada apa-apanya dalam lingkaran konspirasi alam semesta.

“And if the universe conspired
To meld our lives
To make us fuel and fire
Then know
Wherever you will be
So too shall I be.”

posted under Philosophy | No Comments »
« Older Entries