Micro-Blogging

Filed Under (Journal & Life) by Narcistbandit on 04-07-2009

Gara-gara media micro-blogging dan pengikut saya disana makin banyak aja (jangan dinyanyiin a la stasiun TV pinggir itu ya), saya jadi jarang nulis di blog ini. Tentu ini berdampak buruk terhadap cita-cita saya untuk menjadi penulis (lho?! Sejak kapan??).

Rasanya saya harus meniru Perez Hilton yang mampu menggabungkan blog dengan micro-blog. Micro-blog sebagai pancingan sedangkan blog sebagai penjelasan panjang lebar atas pancingan itu.

Niwey…apapun itu, kalau males ya males. Hehehe…! Nggak tau kenapa koq akhir-akhir ini saya so(k) busy sampe nggak sempat nulis. Harus dilawan!

UPDATE: tiket Phnom Penh - Singapore udah kebeli. Jadi saya akan pulang dari Phnom Penh, bukan dari Bangkok. Dan untuk pertama kalinya saya naik Jet Star. Ah…semoga jadi pengalaman yang menarik!

Perjalanan itu

Filed Under (Backpacking, Journal & Life, Travel & Living) by Narcistbandit on 27-06-2009

Berbekal restu dari pacar, ambisi yang cukup besar, dan tiket harga bazaar, saya meluluskan keinginan untuk melakukan perjalanan menaklukkan empat negara dalam lima hari. Apa saja negara yang akan saya datangi dan kapan saya akan mewujudkannya, itu masih rahasia. Yang jelas pasti kan saya tumpahkan di blog ini pada waktunya nanti.

Saat ini saya sudah mengantongi tiket untuk mengarungi setengah dari perjalanan itu. Setengahnya lagi adalah perjalanan darat yang menurut informasi akan berat dan tidak jelas. Tapi ya, semakin berat dan semakin tidak jelas, rasanya semakin menantang untuk saya jalani.

Saya akan up-date persiapan perjalanan ini. Semoga menarik.

Harapan

Filed Under (Journal & Life) by Narcistbandit on 17-06-2009

Tulisan saya terakhir tentang simplenya ide saya mengenai pacaran mendapat tanggapan beragam. Ada yang setuju dan bilang itu manis, ada yang bilang itu terlalu simple, dan ada juga yang nelpon saya trus ngobrol kesana-kemari plus curhat colongan.

Salah satu hal yang kami obrolin dalam telpon itu adalah mengenai harapan. Dimana dalam sebuah hubungan (yang melibatkan lebih dari satu orang) seringkali terdapat perbedaan harapan antara satu orang dengan orang yang lain. Dan seperti layaknya dua sisi mata uang, maka harapan berdampingan dengan kekecewaan. Ketika ada jarak antara harapan dengan kenyataan, maka disitu muncul kekecewaan.

“Different people comes with different expectation”, itu kata teman saya. Masalahnya, seringkali manajemen ekspektasi ini yang sulit dilakukan. Bahwa ketika cinta begitu kuat meliputi hati, membuat kaki kebas dari bumi yang dipijak, maka ekspektasi melesat cepat tak terbendung. Terus terbang dan beranak-pinak. Dan kemudian ketika cinta itu mulai dijalani, kaki mulai menyentuh bumi, kerikil mulai terasa lagi, maka ekspektasi yang tinggi itu mulai turun satu per satu kalau tidak ambruk sekalian. “Jatuh cinta memang asyik, but don’t make too much expectation ya…?” kata teman saya lagi. Intonasinya tidak jelas. Apakah dia membuat pernyataan atau pertanyaan, atau justru keduanya?

Tiba giliran saya bertanya pada teman saya itu: “Kenapa nggak boleh ‘too much expectation’? Emang salah ya kalau kita jatuh cinta sama seseorang trus kita berharap bahwa orang itu jatuh cinta juga pada kita? Atau when we give him our heart, our soul, our time, is it wrong to expect his hand holding our heart?”

“Ya, bukannya nggak boleh punya expectation koq, but keep it in moderate level lah…” Jawab teman saya sambil ber Singlish ria.

Nggak tau harus setuju atau nggak. Tapi yang jelas menahan harapan buat saya hanyalah teori yang gampang diomongin tapi susah dijalanin.

Obrolan ditutup dengan kata-kata menohok khas obrolan menjelang subuh:”You need to feel wanted. You need to feel special. But then you forget…He may not yet think you are as special as you think of him already. Or he may not yet love you as much as you love him already.”

Meeting nan Futuristik

Filed Under (Journal & Life) by Narcistbandit on 16-06-2009

Hari ini saya meeting dengan dua klien. Satu di Australia, satu lagi di Los Angeles. Cara meetingnya agak futuristik, dengan menggunakan skype lengkap dengan webcam, headphone, dan microphone(kayaknya waktu kecil saya mengira bahwa meeting model begini cuma ada di film-film science fiction).

Seru juga meetingnya. Jarak yang sebegitu jauh jadi terasa dekat. Dua klien saya bahkan bisa menebak dari background tempat saya duduk bahwa saya sedang berada di cafe favorit mereka. Obrolan juga jadi santai karena kami malah banyak membahas makanan dan minuman disini. Mereka iri saya ada di Bali.

Seorang teman yang tahu bagaimana saya bekerja langsung berkomentar: “Kayak di film Star Trek ya kerjaan loe?!”

Aaahh…memang enak kerjaan saya. Meeting futuristik di cafe pinggir pantai…tagihan makanan dan minumannya dibayari pula…