Melokal

Melokal

Seminggu lalu saya kedatangan seorang sahabat dari Jakarta. Seperti biasa, bila ada sahabat yang datang ke pulau wisata ini maka saya mendadak jadi pemandu yang baik.

Awalnya karena kesibukan masing-masing (saya sibuk dengan kedai kopi yang akan segera dibuka dan sahabat saya sibuk dengan rombongannya) kami tidak yakin akan sempat bertemu. Tapi akhirnya, di detik-detik terakhir menjelang kepulangannya kami sempat juga berjalan-jalan (bahkan ke tempat yang cukup jauh).

Bertemu di Kuta, kami langsung mengarah ke Karangasem. Di tengah perjalanan, tanpa rencana sebelumnya, kami mampir ke “Bali Safari and Marine Park”. Awalnya kami ingin menikmati Marine Park karena suasana Bali yang dekat dengan laut. Tapi sayang, ketika kami sudah di dalam baru tahu bahwa Marine Park yang sudah diiklankan sejak bertahun lalu itu belum jadi adanya. Jadilah kami menikmati Bali Safari yang menurut pendapat saya lebih heboh toko oleh-olehnya daripada koleksi hewannya.

Perjalanan kami lanjutkan ke pantai Blue Lagoon. Pantai ini terletak di dekat pelabuhan Padang Bai. Sayangnya karena ingatan saya yang sudah cukup samar (terakhir saya ke tempat ini sekitar 3 tahun lalu), maka kami sempat tersasar masuk ke hutan yang penuh nyamuk dan serangga yang cukup bikin gatal. Untungnya kami berhasil keluar dengan selamat dan walaupun sudah cukup sore dapat menikmati pantai Blue Lagoon yang masih sepi itu.

Puas menikmati pantai Blue Lagoon, perjalanan kami lanjutkan ke pantai Candi Dasa. Hanya lewat saja memang, karena hari sudah cukup sore dan perut sudah minta diisi lagi.

Akhirnya malam kami habiskan di restoran seorang teman dengan obrolan yang amat seru.

Tidak ada yang aneh dengan perjalanan saya itu. Namun setelah semua selesai dan sahabat saya pulang ke Jakarta lalu memamerkan foto-foto indahnya lewat jejaring sosial, saya tersadar bahwa sepanjang perjalanan itu saya tidak mengambil gambar sama sekali. Bahkan sejak awal saya tidak terpikir untuk membawa kamera!

Inikah tandanya saya sudah melokal alias menjadi orang lokal?

Perempuan Sibuk Itu

Perempuan Sibuk Itu

Akhirnya selesai juga membaca seri kedua dari trilogi milenium karya Stieg Larsson ini. Buku ini sudah saya miliki beberapa lama lalu tapi selalu tersela oleh buku-buku lain.

Sekedar catatan, setengah bagian pertama dari buku ini sangatlah membosankan. Hal itu yang membuat saya selalu berhenti di tengah-tengah dan menyelanya dengan buku lain. Namun di setengah bagian kedua, buku ini tiba-tiba menjadi sangat menarik dan menegangkan. Di akhir buku, seperti halnya buku pertama, saya dibawa pada kesimpulan: jelas saja Stieg dibunuh tak berapa lama setelah memberikan transkrip buku-bukunya ini.

Buku berikutnya yang sedang saya baca adalah sebuah novel satir karya Mohammed Hanif, seorang penulis asal Pakistan. Semoga bisa cepat saya selesaikan karena saya sangat suka hal-hal berbau satir.

Solo, Sego Liwet, Batik, & Mbak Waldjinah (Bagian-3)

Solo, Sego Liwet, Batik, & Mbak Waldjinah (Bagian-3)

Hal terakhir yang saya jelajahi saat ke Solo kemarin adalah sebuah gedung kuno bernama Lokananta. Dari luar, gedung ini tampak seperti gedung kosong yang sudah tidak terpakai lagi. Lahan parkirnya luas dan kosong. Rumput ilalang tampak tinggi di beberapa bagian.

Lokananta, yang kurang lebih berarti suara dari surga, adalah sebuah perusahaan rekaman musik (label) pertama di Indonesia yang didirikan pada tahun 1956 di Solo. Konon kabarnya Lokananta sukses memproduksi piringan hitam dan kaset yang di tahun 1958 dipasarkan melalui Radio Republik Indonesia.

Pada tahun 1961, Lokananta menjadi perusahaan negara di bawah Perusahaan Umum Percetakan Negara. Di Lokananta inilah tersimpan ribuan master rekaman lagu penyanyi-penyanyi legendaris seperti Waldjinah, Gesang, Titiek Puspa, Bing Slamet, dan lain-lain. Tidak hanya itu, Lokananta juga menyimpan master rekaman pidato-pidato kenegaraan mantan presiden RI pertama.

Lokananta, yang saat saya datangi terasa amat sejuk karena sedang diguyur hujan yang cukup deras, kini mempunyai satu ruangan khusus tempat pelancong bisa membeli rekaman musik berbentuk CD ataupun kaset. Harganya tidak mahal, tapi dijamin asli, bukan bajakan. Uniknya lagi, kalau CD yang diinginkan sedang habis, pelancong bisa memesan dan Lokananta akan dengan senang hati mengirimkannya ke alamat pemesan.

Di Lokananta inilah saya bersentuhan dengan mbak Waldjinah melalui CD rekaman suaranya yang khas itu. Sepanjang perjalanan Solo-Yogyakarta saya tak henti mendengarkannya.

“Oh, Sarinah! Tak kandani Nah ojo mlayu.
Sarinah ayu, awak’e lemu, opo gelem Nah tak pek mantu.”
(Oh, Sarinah!  Saya beritahu, jangan lari.
Sarinah cantik, badannya gemuk, apa mau saya jadikan menantu.)

Gedung Lokananta yang legendaris itu.